KOTAMOBAGU 09/06) — Setelah merampungkan konstelasi agenda kedinasan yang padat di wilayah Bolaang Mongondow Raya—mulai dari asistensi performa yuridis di Kejaksaan Negeri Kotamobagu, pengawalan program strategis nasional Makan Bergizi Gratis, hingga penyuluhan hukum preventif akuntabilitas desa—Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Sulawesi Utara, H. Ferry Tass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, menutup rangkaian perjalanan tersebut dengan sebuah refleksi spiritual dan kultural yang sarat akan makna mendalam pada Selasa malam (09/06/2026).
Memasuki senja di bumi Totabuan, pimpinan Korps Adhyaksa Sulut ini melangkah menunaikan kewajiban transendental dengan melaksanakan ibadah shalat di Masjid Agung Baitul Makmur, rumah ibadah monumental terbesar sekaligus episentrum spiritualitas di jantung Kota Kotamobagu. Di bawah kubah megah yang melambangkan kedamaian tersebut, Ferrytass., Dt. Toembidjo membaur dalam keheningan doa, mengucap syukur atas kelancaran seluruh safari dedikasi penegakan hukum, sekaligus memohon perlindungan bagi keutuhan wilayah Sulawesi Utara agar senantiasa dinaungi keadilan yang hakiki.
Seusai merengkuh keteduhan batin, kebersamaan beralih pada dimensi sosial yang intim melalui jamuan makan malam bersama. Suasana kekeluargaan kian mengental dan mencapai puncaknya saat Wakajati Sulut melebur dalam kemeriahan nonton bareng (nobar) laga sepak bola internasional antara Tim Nasional (Timnas) Indonesia melawan Mozambik.

Berada di tengah-tengah jajaran pejabat struktural serta seluruh fungsional Keluarga Besar (KB) Adhyaksa Kejari Kotamobagu, riuh dukungan terhadap skuad Garuda menjadi pemantik gelora nasionalisme yang menyatukan jiwa.
Agenda penutup ini bukan sekadar rekreasi visual, melainkan sebuah internalisasi nilai-nilai kebersamaan tanpa sekat birokrasi. Melalui harmoni spiritualitas, kehangatan rasa, dan pekik nasionalisme dalam mendukung Timnas Indonesia, Ferrytass., Dt. Toembidjo berhasil meneguhkan bahwa kekuatan Korps Adhyaksa tidak hanya bertumpu pada ketajaman instrumen yuridis di ruang sidang, tetapi juga dipahat oleh soliditas kekeluargaan yang kokoh serta kecintaan yang tak murni luntur terhadap tanah air.