PALEMBANG, (28/08) – Menyambut pendar arunika fajar di ufuk Bumi Sriwijaya, sebuah perjamuan pagi yang memancarkan kehangatan dan wibawa tergelar anggun di salah satu pesanggrahan megah di pusat Kota Palembang. Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, tampak menikmati momen sarapan dan ngopi santai bersama dua manggala praja terkemuka, yakni Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) dan Gubernur Banten Andra Soni, S.M., M.AP.

Di balik ketegasan perannya sebagai penegak hukum, sosok Dr. Ferrytass yang juga merupakan seorang Niniak Mamak atau Penghulu Adat Minangkabau bergelar adat Dt. Toembidjo membawa esensi kearifan tradisi yang mendalam ke dalam ruang perbincangan tersebut.
Di sela kepulan aroma pekat kopi fajar, cengkerama hangat itu mengalir cair menyibak kedalaman filosofi nusantara. Berbekal akar kebathinan dan wawasan luas sebagai seorang pemangku adat, Dt. Toembidjo mendedar makna luhur tentang falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah yang berpadu selaras dengan petuah universal Di mana Bumi Dipijak, Di situ Langit Dijunjung. Diskursus bernas ini beresonansi apik dengan pandangan KDM dan Andra Soni, merajut sebuah kesadaran kolektif bahwa ketegasan sebuah pengabdian dan kepemimpinan publik harus senantiasa berkelindan harmonis dengan etika ilahiah serta penghormatan tulus terhadap tatanan budaya setempat di mana pun bentala dipijak.
Substansi dialog mengenai keluwesan tatanan adat dan harmoni budaya tersebut seolah memanggil kembali memori indah akan rekam jejak kultural Kang Dedi Mulyadi. Ingatan publik kembali berpendar pada sebuah epos akulturasi di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Sumatra Barat, saat KDM disambut alunan syahdu para seniman tradisional. Dengan apresiasi seni yang menjulang tinggi, KDM meminta para pemusik lokal melantunkan tembang legendaris Pasundan Manuk Dadali menggunakan instrumen khas Minang, menciptakan simfoni magis yang meleburkan sekat-sekat geografis nusantara.
Menjelang penghujung perjumpaan pagi yang sarat kontemplasi itu, langkah ketiganya kemudian berderap seirama menuju Lapangan Jakabaring untuk turut hadir memenuhi undangan kehormatan dalam helatan Apel Akbar Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) Nasional se-Indonesia. Kehadiran mereka di tengah gelaran masif tersebut tidak hanya menjadi bagian dari agenda kedinasan, melainkan menyempurnakan kebersamaan yang meneguhkan pilar persatuan dan harmoni di Ibu Pertiwi.