MAKASSAR (30/05) — Desau “Angin Mammiri” yang berembus dari Pantai Losari berpadu mesra dengan gelombang nostalgia para perantau Minangkabau di Kota Daeng. Pada Sabtu malam, 30 Mei 2026, sebuah restoran ternama di kawasan pesisir ikonik Makassar menjadi saksi bisu sebuah pertemuan kultural yang elok.

Bukan sekadar pelipur lara di ujung pekan, acara hiburan malam minggu ini bertransformasi menjadi sebuah manuskrip ruang waktu, tempat di mana rasa persaudaraan dirajut kembali, melintasi batas geografis demi merayakan esensi saciok bak ayam, sadanciang bak basi.

Atmosfer pertemuan malam itu memijar kian benderang dengan hadirnya barisan tokoh penting, pemangku kebijakan, serta jajaran petinggi hukum dan militer. Momentum ini terasa begitu magis dan eksklusif berkat kehadiran Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, H. Ferry Taslim, S.H, M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo. Kehadiran sosok nomor dua di korps Adhyaksa Sulawesi Utara ini memanfaatkan jeda momentum long weekend di Makassar, sebelum esok hari beliau harus kembali bertolak ke Manado demi menunaikan amanah negara.

Sisi kewibawaan acara kian paripurna dengan kehadiran perwira tinggi dan menengah yang menyatu dalam kehangatan sipil: Marsma TNI Feri Yunaldi, S.E., M.Han Inspektur Kodau II dan Kolonel Inf Indra Kurnia, S.Sos., M.Si Pamen Ahli Bid. Ilpengtek & LH Staf Ahli Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin.

Kehangatan malam tidak hanya didominasi oleh dialektika formal, melainkan cair dalam harmoni kekeluargaan yang kental. Barisan pilar penggerak organisasi kemasyarakatan Minangkabau di Sulawesi Selatan turut hadir mengawal jalannya silaturahmi, di antaranya Ir. H. Akmal Musthafa Ketua Umum IKM Sapayuang Sulawesi Selatan dan Zainal Sutan Parmato Dewan Pembina IKM Sapayuang.

Nuansa inklusivitas dan akulturasi budaya yang indah juga terpancar malam itu. Sekretaris Jenderal IKASMIN-SS, Isnaini Al Ihsan, S.H., Dt. Mangkuto Alam, hadir memboyong istri beserta. Menariknya, malam ini juga dihangatkan oleh kehadiran Kepala Puskesmas Pattoppakang Ikhsan Muis Putra, SKM, yang datang bersama istri serta representasi keluarga besar Karaeng Lengkese Takalar Daeng Rannu dan Daeng Oppa, menciptakan sebuah jembatan kultural yang puitis antara tanah Minangkabau dan bumi Celebes.

Melengkapi lingkaran kebersamaan tersebut, hadir pula Hendri Sutan Pado Bendahara IKASMIN-SS, serta para maestro kuliner penggerak ekonomi diaspora, yakni Dedi Piliang Owner RM. Kencana, Dolly Bagindo Basa RM. Pasan Mande, serta Chandra dan Yoanda yang merupakan representasi generasi dinamis Keluarga Besar IKM Sapayuang.

Sublimasi kegembiraan malam mencapai puncaknya kala sebuah momen langka tersaji di atas panggung mini. Sebuah “duet maut” lahir dari dua figur aristokratis yang kebetulan menyandang nama serupa dan kesamaan prestise bintang satu di pundak mereka: Marsma TNI Feri Yunaldi dan Wakajati H. Ferry Tas.

Ketika “Duo Jenderal Feri” ini melantunkan nada, sekat-sekat formalitas birokrasi meluruh seketika. Alunan vokal mereka yang ritmis dan penuh penjiwaan berhasil menggetarkan sukma para hadirin, mengubah suasana malam menjadi panggung memori yang penuh tawa, riuh tepuk tangan, dan keakraban yang subtil.

Seiring malam yang kian larut merayap menuju fajar, untaian melodi karaoke bergantian mengalun bebas, berkelindan dengan kepulan aroma kopi hangat dan jajaran kudapan yang tersaji estetis. Di sudut-sudut meja, bincang-bincang hangat bergulir lembut, merentang dari gurauan ringan hingga refleksi filosofis tentang bagaimana menjaga nyala api tradisi di perantauan.

Pertemuan di tepian Losari ini menegaskan satu hal: sejauh apa pun kaki melangkah menantang takdir, memori kolektif akan kampung halaman dan kekuatan silaturahmi akan selalu menjadi kompas yang menuntun hati para perantau Minangkabau untuk pulang pada kehangatan sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *