Posted in

Pendar Adab di Mimbar Kehormatan: Wakajati Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo Terima Titah Duduk Semeja dengan Sang “Mahaguru” JAMPIDUM

JAKARTA (26/08) — Di balik gegap gempita epos pertarungan Kejuaraan Nasional Karate Antardojo Gojukai Jaksa Agung Cup III di GOR Ciracas, terselip sebuah fragmen adiluhung tentang adab, kesetiaan, dan persaudaraan yang melampaui sekat waktu. Pada rabu sore 26 Agustus 2026, panggung tatami bukan sekadar arena unjuk ketajaman Kime, melainkan saksi bisu bertautnya kembali dua punggawa penegak keadilan Nusantara di singgasana kehormatan.

Sebuah momen langka nan sarat makna terekam kala Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo selaku Ketua Tim Ofisial Kontingen Sulut, menerima amanat panggilan secara langsung dari Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAMPIDUM) sekaligus Presiden IKGA Indonesia, Dr. Leonard Eben Ezer Simanjuntak, S.H., M.H.

Panggilan tersebut dititahkan sang Mahaguru melalui perantara Ketua Penyelenggara Kejurnas, Dr. Zet Tadung Allo, S.H., M.H. figur sentral yang juga menjabat sebagai Direktur Penuntutan pada JAMPIDMIL Kejaksaan Agung RI sekaligus salah satu pilar tangguh dalam Tim 9 Pidsus. Titah tersebut menginstruksikan Dr. Ferrytass untuk beranjak dari hiruk-pikuk tribun penonton, tempat beliau tengah lebur membaur mengawal kontingen Nyiur Melambai, guna menghadap dan duduk berdampingan di meja prabaswara (cahaya terang/kehormatan) bersama sang Mahaguru serta jajaran Sensei Gojukai level internasional.

​Dari titik pandang eksklusif tersebut, mereka mengamati jalannya partai puncak Kumite perorangan, yang kala itu didominasi oleh kilatan teknik gemilang dari para kesatria asal Sulawesi Selatan.

Meretas Tirai Memori di Bawah Naungan Baitul Adli
Pemanggilan istimewa ini sejatinya meretas kembali lembaran memori dua warsa silam. Jauh sebelum Dr. Ferrytass menyandang gelar doktoralnya, tali ukhuwah dan sinergi darma telah terajut teramat kokoh tatkala keduanya mengabdi di institusi Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (2023–2025).

Kala itu, di bawah naungan tongkat komando Dr. Leonard sebagai Kajati Sulsel, Dr. Ferrytass yang masih menjabat sebagai Asdatun sekaligus Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), bahu-membahu dalam sebuah ikhtiar suci. Bersama, mereka meletakkan batu pijakan spiritual dengan membangun mahakarya arsitektur religi, Masjid Baitul Adli, di lingkungan kantor Kejati Sulsel.

Bukan hanya perihal spiritualitas, jejak luhur JAMPIDUM turut memahat fondasi intelektualitas Dr. Ferrytass. Konon, epos pencapaian gelar akademik tertinggi (S-3) yang kini disandang oleh Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo bermula dari sebuah “paksaan” penuh presisi dari sang mentor. Pada medio 2023, di saat Dr. Ferrytass masih menimbang asa untuk melanjutkan studi, Sang “Rajawali Kejaksaan” mengambil langkah determinan. Beliau secara personal menjalin komunikasi dengan Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) guna mendaftarkan nama Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo beserta beberapa asisten lainnya untuk menembus kawah candradimuka ujian doktoral. “Keterpaksaan” inilah yang kelak bertransformasi menjadi katalisator motivasi dan karsa inspirasi yang tak terhingga bagi Dr. Ferrytass.

Maka tak ayal, sapaan takzim “Mahaguru” teramat paripurna untuk disandangkan kepada Sang Rajawali Kejaksaan ini. Kharisma beliau selama masa baktinya di Tanah Anging Mammiri bahkan diakui mutlak melalui penyematan tiga gelar adat luhur dari masyarakat Sulawesi Selatan: Lamakatutu Dg Mamase, Putuleo Dg Maharaja, dan Imanatunggi Dg Matola. Ketiga gelar tersebut menjadi lencana kultural yang meneguhkan wibawa dan kepemimpinannya.

Keharuan dan rasa bangga memancar dari raut wajah Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo saat merenungkan momen berdampingan dengan sang mentor di tengah kemegahan Kejurnas. Dengan artikulasi yang diramu dalam respek mendalam, beliau menyanjung sang Mahaguru:

“Bisa kembali duduk bersemuka dan berdampingan di mimbar kehormatan ini adalah sebuah anugerah paripurna. Beliau, sang Mahaguru, bukan sekadar rimbun pohon tempat kami berteduh menggali preseden hukum, melainkan teladan karsa dalam merajut peradaban, sebagaimana saat kami bersama meneteskan peluh mendirikan Baitul Adli. Tiga pusaka gelar adat Sulsel yang beliau sandang adalah bukti sahih bahwa kepemimpinan beliau memancarkan askara yang tak lekang oleh zaman. Menjadi saksi kebesaran beliau dari dekat, menyatukan kepingan memori masa bakti di Makassar dengan kejayaan Gojukai hari ini, adalah kehormatan yang akan abadi bersemayam di sanubari.”

Pertemuan lintas masa di mimbar kehormatan GOR Ciracas ini menjadi epilog yang teramat manis. Ia membuktikan bahwa di balik balutan karatedogi dan jubah kebesaran seorang jaksa, mengalir nilai-nilai luhur Budo, di mana penghormatan kepada seorang guru dan persaudaraan kesejawatan adalah kemenangan yang paling hakiki.

Sebagai pamungkas dari epos pertarungan di GOR Ciracas, kontingen Sulawesi Utara berhasil memanifestasikan semangat pantang menyerahnya menjadi barisan prestasi yang membanggakan. Terjangan teknik paripurna dan kekokohan dachi (kuda-kuda) para atlet sukses mempersembahkan panen medali bagi bumi Nyiur Melambai.

Puncak kejayaan (Suwarna) atau kepingan Medali Emas berhasil diraih oleh dua kesatria andalan: Rifelo Tumembouw dan Heaven Kawet. Perjuangan yang tak kalah heroik turut menghasilkan Medali Perak (Rajata) yang ditorehkan oleh: Kendy Bororing, Tesalonika Simboh, Made Kenzo, Missy Muaya. Sementara itu, kepingan Medali Perunggu (Kamsa) sukses diamankan melalui kegigihan tiada henti dari: Elrica Mosal, Tesalonika Simboh, Missy Muaya, Aurenvilly Lolowang, Arcelia Halim, Ricky Pangkey.

Kata Beregu Putri Senior (Citra Montolalu, Tessalonika Simboh, Aurenvilly Lolowang), Kata Beregu Putri Pemula (Ainixie Humbas, Akhyla Karundeng, Mikayla Gosal).

Raihan medali ini menjadi prasasti kebanggaan sekaligus bukti sahih bahwa di bawah komando Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo, api Bushido dan harmoni gerak kesatria Sulut akan terus menyala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *