Posted in

Napas Baru di Episentrum Keadilan Sulut: Wakajati Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo Kukuhkan Domo Pranoto, Titipkan Pesan Transformasi dan Nyala Integritas

MANADO (03/09) — Dalam sebuah ritus birokrasi yang jauh dari sekadar formalitas seremonial, angin penyegaran kembali berembus di lingkungan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara. Mewakili Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H., Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo secara resmi menahbiskan Domo Pranoto, S.H., M.H., sebagai Koordinator pada Kejati Sulut, Kamis 3 September 2026.

Prosesi pengambilan sumpah dan pelantikan yang berlangsung khidmat ini menjadi tonggak baru dalam eskalasi karier Domo Pranoto, yang kini melangkah mantap dari singgasana Eselon IV/a menuju level manajerial Eselon III/b. Namun, lebih dari sekadar rotasi jabatan, momen ini menjadi panggung penyampaian pesan filosofis yang menggugah nurani para penegak hukum yang hadir.

Dalam sambutan tertulis yang dibacakan dengan penuh wibawa oleh Wakajati Dr. H. Ferrytass, terukir sebuah perenungan mendalam tentang esensi kepemimpinan.
“Agenda hari ini bukanlah semata tentang euforia penyematan tanda pangkat atau pergantian ruang kerja. Ini adalah manifestasi dari amanah Ilahiah dan manifestasi kepercayaan institusi yang kini dititipkan di atas pundak Saudara,” tegas Dr. H. Ferrytass mengutip naskah sambutan.

Lewat diksi yang menyentuh ruang psikologis, Wakajati menyadari adanya getar kekhawatiran di balik senyum kebanggaan sang pejabat baru. Sebuah validasi emosional yang diiringi dengan petuah bernas: “Kepemimpinan sejati tidak lahir dari rahim kenyamanan, melainkan mekar dari keberanian untuk melangkah, meski kaki terasa teramat berat.”
Tiga Pilar Orkestrasi Hukum dan Epilog ‘Ketakutan yang Sehat’

Sebagai Koordinator yang baru, Domo Pranoto kini memikul beban kerja yang menuntut orkestrasi tingkat tinggi. Ia diamanatkan untuk menjadi motor penggerak dalam tiga pilar utama: melakukan kajian teknis di bidang hukum yang komprehensif, menyuntikkan dukungan pemikiran strategis bagi pimpinan, serta menjadi dirigen yang mengkoordinasikan para Jaksa dalam simfoni pelaksanaan tugas sehari-hari.

Untuk menerjemahkan tugas mahaberat tersebut, Dr. H. Ferrytass menekankan pentingnya konvergensi tiga kompetensi esensial—manajerial, sosial-kultural, dan teknis. Sang Koordinator diharapkan tak hanya menjadi pejabat struktural, melainkan menjelma sebagai jembatan transformasi yang merawat muruah pelayanan publik Kejati Sulut agar kian paripurna di mata masyarakat.

Menjelang akhir amanatnya, sebuah pesan pamungkas yang sarat akan kedalaman spiritual dilontarkan. Sebuah antitesis dari arogansi kekuasaan, yakni anjuran untuk memelihara ‘ketakutan’.

“Jangan pernah kehilangan rasa takut. Namun, rawatlah rasa takut yang sehat. Takutlah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan takutlah pada hilangnya kepercayaan institusi serta masyarakat yang kalian layani,” pesannya.
Tampuk kekuasaan diakui hanyalah fana dan akan silih berganti diayun zaman. Namun, nama baik dan integritas adalah prasasti yang akan terus hidup menyertai rekam jejak. Dr. H. Ferrytass berpesan agar pejabat yang dilantik senantiasa membentengi hati, menjaga marwah diri, keluarga, dan institusi.

Prosesi pelantikan ini pun ditutup dengan untaian doa dan harapan, agar sang Koordinator baru tidak hanya paripurna secara intelektual dan kompetensi, namun juga matang secara mental dan spiritual, berjalan diiringi restu keluarga dan lindungan Sang Maha Pencipta dalam menegakkan pilar-pilar keadilan di Bumi Nyiur Melambai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *