TOMOHON, (22/08) – Menyambung epik persaudaraan yang telah dirajut sempurna dalam temaram “Country Night” semalam, rona arunika (cahaya fajar) yang perlahan menyibak selimut kabut Tomohon pada Sabtu (22/8) menjadi saksi bisu berlanjutnya lakon agung Family Gathering Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara.
Rangkaian hari kedua ini masih dipimpin langsung oleh sang manggala (pemimpin) Dwitunggal Adhyaksa Sulut, Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H., dan Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo. Tanpa sekat hierarki, samudaya (seluruh) elemen turut serta mengayunkan langkah; membaurkan para Asisten, Koordinator, Kepala Seksi, hingga segenap staf dan pegawai di ruang lingkup Kejati Sulut dalam satu harmoni karsa.

Tepat pada pukul 06.30 WITA, manakala embun masih bertahta di ujung dedaunan, rombongan bertolak dari posko wisma. Bersama-sama, mereka menelusuri eksotisme alam sejauh 5 kilometer dalam giat Fun Walk menuju benteng alam yang gagah menjulang, yakni kaki Gunung Lokon. Hembusan pawana (angin) sejuk pegunungan seolah menjadi kidung yang mengiringi canda tawa, menyapu sisa-sisa kantuk setelah semarak perayaan pada malam sebelumnya.

Meresapi perjalanan nirmala (suci/bersih) di alam terbuka ini, Kajati Sulut Jacob Hendrik Pattipeilohy merangkum maknanya dalam sebuah refleksi yang mendalam.
“Derap langkah kita menapaki rute menuju ancala (gunung) Lokon pagi ini adalah resonansi dari kebersamaan kita semalam. Ini bukan sekadar gerak raga semata, melainkan manifestasi dari harmoni dan kesatuan langkah kita dalam menjalankan dharma bakti. Kebugaran fisik dan kejernihan swacitta (jiwa) adalah fondasi mutlak bagi insan Adhyaksa untuk mengawal keadilan dengan paripurna,” tutur Jacob Hendrik Pattipeilohy seraya memandang bentang alam Tomohon yang asri.
Setibanya di titik akhir pendakian, euforia kekompakan tidak lantas surut, melainkan kian bergelora tatkala panitia menggelar undian doorprize. Hujan anugerah senilai total Rp 50 juta dibagikan sebagai bentuk tali asih dan apresiasi. Sorak-sorai pecah saat pundi-pundi kebahagiaan diumumkan secara berjenjang: satu peserta bernasib baik merengkuh hadiah utama Rp 10 juta, disusul dua orang beruntung yang masing-masing membawa pulang Rp 5 juta, serta lima orang lainnya meraih rezeki sebesar Rp 2 juta.

Namun, kemegahan sejati dari perhelatan ini terletak pada kemurahan hati yang merata. Tidak ada satu pun peserta yang melangkah pulang dengan hampa. Seluruh insan Adhyaksa Kejati Sulut menerima cinderamata uang tunai sebesar Rp 150 ribu. Merespons pembagian tersebut, Wakajati Sulut menempatkannya dalam sebuah bingkai makna kekeluargaan yang amat menyentuh.
“Setiap bingkisan yang dibagikan hari ini adalah simbolisasi dari asih dan asuh. Cinderamata sebesar 150 ribu rupiah untuk semua peserta ini sengaja disiapkan sebagai ‘souvenir pembuka pintu’ rumah. Tujuannya satu; agar senyum, canda tawa, dan sukacita yang terjalin erat di Tomohon sejak semalam, dapat kita bawa pulang untuk turut mewarnai kehangatan keluarga yang setia menanti. Karena di sanalah muara dari segala bentuk pengabdian kita,” urai Dr. Ferrytass dengan nada yang sarat akan pengayoman.
Seiring bergesernya baskara (matahari) yang kian meninggi di ufuk, paripurnalah sudah seluruh rangkaian Family Gathering yang membentang dari 21 hingga 22 Agustus 2026 ini. Berbekal bingkisan di tangan dan memori yang terpatri di dada, seluruh keluarga besar Kejati Sulut bersiap kembali bertolak menuju keseharian mereka, membawa pulang energi baru yang utuh untuk terus menabur dharma demi keadilan di tanah Nyiur Melambai.