Posted in

Eksklusif: Harmoni Prestasi di Panggung Adhyaksa, Keluarga Besar Wakajati Sulut Ferrytass., Dt. Toembidjo Rayakan Estafet Kepemimpinan Generasi Penerus Bangsa

JAKARTA (25/06) — Di bawah langit cerah kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, tepat pada Kamis, 25 Juni 2026, sebuah narasi tentang keberhasilan dan kebanggaan keluarga terpatri dengan megah dalam catatan sejarah penegakan hukum Indonesia. Momentum sakral penutupan Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan LXXXIII (83) Gelombang I Tahun 2026 menjadi panggung utama bagi keluarga besar Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, H. Ferrytass., S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo. Kehadiran beliau bersama sang istri tercinta, Ir. Effy Hidayaty., M.T., di tengah hiruk-pikuk pelantikan tersebut menjadi sebuah perayaan monumental atas lahirnya generasi penerus bangsa yang memiliki kapasitas intelektual dan integritas multidimensi.

Lapangan Upacara Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Kejaksaan RI menjadi panggung utama ketika Jaksa Agung RI, ST Burhanuddin, menyematkan amanah jabatan kepada 505 jaksa baru. Di antara barisan insan terpilih tersebut, berdiri tegak Muhammad Syahidul Akbar., S.H., putra sulung dari Ferrytass., Dt. Toembidjo dan Ir. Effy Hidayaty., M.T. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Andalas kelahiran 1999 yang menuntaskan pendidikan di Kelas 9 PPPJ ini telah resmi bertransformasi menjadi penegak hukum yang siap mengabdi bagi keadilan.

Sebelum memasuki gerbang korps Adhyaksa, Akbar telah menempuh perjalanan karier yang matang; mulai dari mengasah intuisi komunikasi sebagai Social Media Specialist di PT. Media Musik Proaktif (2022), mendalami rigiditas hukum korporasi di PT. Semen Indonesia Beton (2023–2024), hingga akhirnya memantapkan langkah sebagai CPNS Kejaksaan di Kejaksaan Negeri Pemalang sejak 2024. Fondasi pendidikan urban yang diretasnya dari SDS Angkasa 4 Halim Perdanakusuma, SMPN 157 Jakarta, hingga SMAN 42 Jakarta, kini menjadi landasan kokoh baginya untuk menjadi pedang keadilan yang presisi.

Kebahagiaan keluarga ini terasa semakin lengkap dengan kehadiran sang adik, Muhammad Akram Alhanif, yang turut mendampingi kedua orang tuanya di tribun kehormatan. Alhanif, sang peraih mahakarya akademik tahun ini, hadir dengan aura ketenangan seorang intelektual muda yang baru saja menaklukkan empat institusi pendidikan tinggi paling prestisius di Indonesia melalui jalur prestasi. Kehadirannya di acara pelantikan sang kakak memberikan impresi visual yang kuat tentang regenerasi kepemimpinan keluarga yang sinergis; di satu sisi menjaga marwah hukum, dan di sisi lain merancang masa depan peradaban melalui arsitektur dan ilmu pengetahuan.

Keunggulan kedua putra ini merupakan manifestasi dari pola asuh yang dibangun di atas fondasi intelektualitas dan nilai-nilai tradisi. Sebagai keluarga yang memegang teguh identitas darah asli Minangkabau, Ferrytass., Dt. Toembidjo, yang dalam kesehariannya mengemban tanggung jawab sebagai praktisi hukum senior sekaligus pemangku adat dengan gelar Niniak Mamak/Penghulu Adat Minangkabau, berpadu harmonis dengan Ir. Effy Hidayaty., M.T., seorang akademisi yang mendedikasikan diri dalam dunia pendidikan. Fusi antara ketegasan filosofi adat yang luhur dan ketajaman nalar pedagogis sang ibu terbukti berhasil membentuk karakter anak-anak yang tangguh, adaptif, dan berwawasan luas.

Melihat kedua putranya berdiri tegak dalam lintasan karier dan akademik yang cemerlang, Ferrytass., Dt. Toembidjo menyampaikan refleksi yang sarat akan nilai-nilai luhur kepemimpinan. “Keberhasilan ini bukanlah garis finis, melainkan sebuah titik start bagi mereka untuk membawa perubahan nyata bagi bangsa. Kami senantiasa menanamkan bahwa gelar dan posisi hanyalah instrumen. Esensi dari pendidikan adalah pembentukan karakter yang mampu memikul tanggung jawab besar di pundaknya. Saya melihat di dalam diri mereka, ada semangat untuk terus belajar, keberanian untuk menembus batas, dan kerendahan hati untuk mengabdi kepada masyarakat. Inilah investasi terbaik yang bisa kami persembahkan untuk Indonesia,” ungkap beliau dengan penuh wibawa.

Senada dengan sang ayah, Ibunda memberikan pandangan dari perspektif akademis yang mendalam tentang proses tumbuh kembang buah hatinya. “Bagi saya, mendidik anak bukan hanya soal transfer ilmu, melainkan menanamkan benih kemandirian dan rasa ingin tahu yang tak bertepi. Melihat mereka mampu menyeimbangkan antara logika berpikir yang sistematis dan kedalaman spiritualitas adalah pencapaian tertinggi sebagai orang tua. Saya selalu berpesan, dunia akan selalu dinamis, namun integritas dan kemampuan untuk terus beradaptasi adalah kompas yang tidak boleh hilang. Mereka adalah cerminan dari doa-doa yang dilangitkan dan kerja keras yang tidak pernah mengenal lelah,” ujar sang ibunda dengan penuh kebanggaan.

Resonansi prestasi kakak-beradik yang mewarisi darah asli Minangkabau ini seolah membangkitkan kembali memori kolektif tentang kejayaan tanah Minangkabau yang legendaris, rahim dari pemikiran besar para tokoh asal Minangkabau. Karakteristik pemikir makro yang cakap menyelaraskan ketajaman nalar intelektual dengan integritas moral seperti spirit yang pernah diwariskan oleh Bung Hatta, Haji Agus Salim, Tan Malaka, hingga Assaat tampak mengejawantah dalam diri Syahidul Akbar dan Akram Alhanif.

Ragunan hari ini bukan sekadar menjadi lokasi pelantikan seorang jaksa, melainkan menjadi panggung bagi sebuah keluarga yang sukses merangkai masa depan anak-anak mereka dengan benang emas dedikasi. Kombinasi antara ketegasan seorang penegak keadilan dan kecemerlangan seorang arsitek peradaban di masa depan, Syahidul Akbar dan Akram Alhanif, kini siap melangkah sebagai generasi penerus yang akan mengawal kedaulatan serta membangun Indonesia yang lebih berdaya saing di kancah global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *