MANADO, (6/07) — Transisi harmonis antara tugas kenegaraan dan tanggung jawab kultural terefleksi apik di lingkungan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara. Tepat usai memimpin suksesi apel kerja awal pekan sebagai Inspektur Upacara pada Senin (6/7/2026) pagi, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) H. Ferry Tass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, langsung membuka pintu ruang kerjanya untuk menerima audiensi kehormatan dari eksponen diaspora Minangkabau di tanah perantauan Manado.
Kunjungan komunal tersebut diinisiasi oleh rombongan Keluarga Besar Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) Manado. Delegasi yang hadir merepresentasikan pilar-pilar penting pergerakan sosial dan ekonomi komunitas Minang di Sulawesi Utara, di antaranya: Syahrial (Penasihat IKM Manado sekaligus Owner RM Rantau Minang), Usdi Chaniago (Wakil Ketua IKM Manado), Ferdinan Chandra (Wakil Ketua IKM Kotamobagu dan Owner RM Talago Ameh), Chandra (tokoh pengusaha/kontraktor), serta Boy Sikumbang (Wakil Ketua II IKM Manado).

Audiensi yang berlangsung dalam atmosfer kekeluargaan yang kental tersebut menjadi medium artikulasi bagi para perantau untuk merajut silaturahmi sekaligus membedah ragam dinamika, keluh kesah, serta diskursus sosial ekonomi yang mereka hadapi selama merajut asa di Bumi Nyiur Melambai. Pertemuan ini merepresentasikan kerinduan emosional akan sosok pelindung sekaligus pengayom di tanah rantau.
Bagi Ferrytass, momentum ini mendemonstrasikan kapasitasnya yang melampaui batas atribut formal yudisial. Di kancah organisasi nasional, beliau memegang mandat kepakaran yang strategis sebagai Dewan Pakar di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IKM. Namun secara esensial dan kultural, beliau adalah seorang Niniak Mamak atau Penghulu Adat Minangkabau yang menyandang gelar kebesaran Datuak Toembidjo.
Dalam falsafah luhur adat Minangkabau, telah menjadi kewajiban ontologis bagi seorang Niniak Mamak untuk selalu membentangkan tikar, membuka telinga, dan memberikan pencerahan kepada para dunsanak (saudara) dan anak kemenakan, sejauh apa pun mereka terpisah dari Ranah Minang. Tugas kultural inilah yang diwujudkan secara nyata oleh Wakajati di ruang kerjanya.
Menariknya, dedikasi Ferrytass., Dt. Toembidjo terhadap penguatan ukhuwah dan pemberdayaan diaspora Minang nyatanya meretas batas wilayah yurisdiksi. Rekam jejak kepemimpinan kulturalnya juga mengakar kuat di Sulawesi Selatan. Beliau tercatat mengemban amanah prestisius sebagai Dewan Pembina Keluarga Besar IKM Sapayuang Sulawesi Selatan. Tidak berhenti di situ, di sektor pemberdayaan ekonomi dan kepatuhan etik, beliau juga menduduki posisi sentral sebagai Dewan Komite Etik & Pengawasan IKASMIN-SS (Ikatan Saudagar Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan), yang merupakan manifestasi organisasi sayap dari IKM Sapayuang Sulsel.
Kehadiran beliau di IKASMIN-SS bukan sekadar figuratif, melainkan bertindak sebagai inisiator sekaligus motor penggerak utama di balik masifnya program Jum’at Berkah IKASMIN-SS sebuah gerakan filantropi yang kini telah dikukuhkan sebagai Program Kerja Resmi IKASMIN-SS dan memberikan impak sosial yang signifikan bagi masyarakat luas.
Menyikapi keluh kesah dan dinamika perantauan dari delegasi DPW IKM Manado, H. Ferry Tass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo memberikan respons transformatif yang mengombinasikan kebijaksanaan seorang pemangku adat, ketegasan seorang abdi negara, dan visi sosial seorang inisiator filantropi:
“Di ruang kerja ini, saya tidak sekadar hadir sebagai representasi institusi penegak hukum, tetapi juga sebagai pilar kultural dari keluarga besar Minangkabau. Sebagai Niniak Mamak yang memegang amanah pusako gelar Datuak Toembidjo, sekaligus Dewan Pakar DPP IKM, sudah menjadi kewajiban moral dan adat bagi saya untuk merangkul, mendengar, dan mengayomi setiap dunsanak serta anak kemenakan di tanah perantauan. Ragam keluh kesah dan dinamika yang kalian hadapi di Bumi Nyiur Melambai ini adalah ujian empiris perantau sejati yang justru akan menempa mentalitas kita menjadi lebih tangguh. Sebagaimana yang kita inisiasi bersama saudara-saudara kita melalui program sosial Jum’at Berkah di IKM Sapayuang Sulawesi Selatan, saya ingin spirit kepedulian dan kebersamaan itu juga menyala di Manado. Pesan saya, tetaplah berpegang teguh pada petatah-petitih kebanggaan kita: ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Mari kita jaga marwah dan kehormatan Minangkabau dengan terus memberikan kontribusi positif, beradaptasi dengan cerdas, saling bahu-membahu dalam urusan sosial, dan merawat harmoni bersama seluruh elemen masyarakat Sulawesi Utara yang kita cintai ini,” urai Dt. Toembidjo dengan penuh karisma.
Pertemuan strategis nan hangat tersebut ditutup dengan komitmen penguatan kohesi sosial dan akselerasi ekosistem IKM ke depannya. Kunjungan ini membuktikan secara sahih bahwa rentang jarak geografis dari kampung halaman sama sekali tidak mereduksi soliditas ikatan batin dan kepedulian holistik seorang Niniak Mamak terhadap urat nadi kehidupan masyarakatnya. (Redaksi)