Posted in

Dialektika di Gate 1 BIM: Tokoh Sumbar Titipkan Asa Kepulangan Wakajati Sulut Ferrytass., Dt. Toembidjo demi Supremasi Hukum Berlandaskan ABS-SBK

PADANG PARIAMAN(28/06) — Sebuah perjumpaan fortuitous (tidak terencana) yang sarat akan makna diskursif tercipta di ruang tunggu keberangkatan (Gate 1) Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Dalam konvergensi tak terduga tersebut, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Sulawesi Utara, H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, bersua dengan jajaran elitis birokrasi serta representasi politik Sumatra Barat dalam sebuah atmosfer yang cair namun substansial.

Pertemuan tersebut menghadirkan tokoh-tokoh strategis, di antaranya Bupati Padang Pariaman, Dr. H. John Kenedy Azis, S.H., M.H.; Ketua DPRD Kota Padang periode 2024–2029, H. Muharlion, S.Pd. dari Partai Keadilan Sejahtera; serta Ketua Fraksi Demokrat DPRD Provinsi Sumatra Barat yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPW Partai Demokrat Sumatra Barat, Doni Harsifa Yandra, S.IP., M.Si., bersama sejumlah fungsionaris Partai Demokrat Sumatera Barat.

Diskursus mengalir dinamis, menyentuh eskalasi sosiopolitik terkini, khususnya fenomena Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) yang baru saja dihelat di Kabupaten Padang Pariaman. Bupati John Kenedy Azis beserta para tokoh yang hadir mengelaborasi bagaimana kontestasi akar rumput tersebut kini telah mengalami transmutasi nuansa, menyerupai kompleksitas Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Fenomena maraknya “perang baliho” hingga adu gagasan visi-misi para kandidat menjadi refleksi kolektif mengenai kedewasaan demokrasi lokal yang kian kompetitif.

Tidak hanya menyoal dinamika politik, perbincangan juga menukik pada narasi kebudayaan, khususnya perhelatan akbar Tabuik di Kota Pariaman. Para tokoh sepakat bahwa festival ini bukan sekadar ritus tahunan, melainkan manifestasi identitas kultural yang telah bertransformasi menjadi ikon pariwisata berkelas internasional. Tabuik dipandang sebagai simbol kebangkitan ekonomi kreatif dan diplomasi budaya yang mengukuhkan posisi Pariaman dalam peta kebudayaan Nusantara, sebuah kebanggaan yang kian mempererat ikatan emosional para tokoh yang hadir terhadap tanah kelahirannya.

Narasi mengenai integritas dan rekam jejak H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo kian terkonfirmasi melalui testimoni Doni Harsifa Yandra, S.IP., M.Si. Menilik kunjungan silaturahmi beliau ke Makassar beberapa bulan silam, Doni mengisahkan kembali diskursus mendalamnya bersama salah seorang tokoh perantau Minangkabau yang telah lama menetap di sana. Dari perjumpaan tersebut, mengemuka fakta bahwa apresiasi terhadap Ferrytass., Dt. Toembidjo begitu impresif di tanah perantauan.

“Saat saya berkunjung ke Makassar beberapa bulan lalu dan berdiskusi dengan tokoh perantau Minangkabau di sana, saya mendengar sendiri betapa harumnya nama Dt. Toembidjo. Selama delapan tahun mengabdi di Sulawesi Selatan, beliau adalah figur yang sangat disegani dan menjadi sosok yang sangat dihormati. Beliau adalah representasi martabat Minangkabau yang sesungguhnya di tanah rantau,” ujar Doni Harsifa Yandra dengan penuh penekanan.

Menanggapi apresiasi hangat tersebut, H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo menanggapinya dengan penuh kerendahan hati. Beliau menegaskan bahwa pengabdian, di manapun ia berpijak, adalah manifestasi dari nilai-nilai luhur yang mengakar dalam jati dirinya.

“Bagi saya, jabatan adalah sebuah mandat yang harus dijaga dengan integritas tanpa kompromi. Jauh di tanah rantau, nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandikan Kitabullah (ABS-SBK) senantiasa menjadi kompas moral dalam setiap langkah penegakan hukum yang saya ambil. Apresiasi dari dunsanak di Sumatra Barat bukanlah sekadar sanjungan, melainkan amanah moral yang semakin menguatkan komitmen saya untuk selalu siap berkontribusi bagi kampung halaman tercinta kapan pun waktu dan keadaan memanggil,” tutur Dt. Toembidjo dengan nada yang teduh namun berwibawa.

Esensi paling monumental dari pertemuan informal ini adalah mengkristalnya harapan kolektif dari para tokoh Sumatra Barat terhadap figur H. Ferry Tass. Mereka menitipkan ekspektasi mendalam agar sang Wakajati yang secara kultural memegang posisi terhormat sebagai Penghulu Adat berkenan melakukan repatriasi pengabdian di masa depan. Kepulangannya ke Ranah Minang dipandang sebagai urgensi strategis untuk membangun dan mengawal supremasi hukum yang profesional serta proporsional.

Perbincangan yang dibalut gelak tawa dan pertukaran gagasan progresif tersebut kian mengkristal menjadi sebuah narasi harapan yang kuat. Diskursus yang merentang dari dinamika kontestasi lokal, keagungan budaya Tabuik, hingga visi besar tentang dedikasi hukum ini, meninggalkan resonansi mendalam bagi para tokoh yang hadir. Pertemuan di Gate 1 BIM ini bukan sekadar perjumpaan insidental, melainkan sebentuk dialektika yang memperteguh komitmen kolektif terhadap masa depan kampung halaman, yang senantiasa menanti dedikasi paripurna sang Niniak Mamak, Dt. Toembidjo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *