MANADO (22/07) — Tatkala temaram pagi Juli merekah di langit ufuk, fasad kaku gedung Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara luruh sejenak, menjelma menjadi oase peradaban. Hari ini, Rabu (22/7/2026), supremasi hukum tak sekadar bergema lewat ketukan palu, namun menari lincah dalam rona-warni wastra kebangsaan.
Puncak Peringatan Hari Bakti Adhyaksa (HBA) dirayakan laksana sebuah mahakarya simfoni; menjahit karsa dan raga para insan Adhyaksa dalam keagungan pakaian adat Nusantara.

Memimpin epik kebangsaan ini, Kepala Kejaksaan Tinggi Sulut, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H., bertahta layaknya ksatria penjaga benteng kebenaran di Bumi Nyiur Melambai. Bersanding anggun dengan sang permaisuri hati, Nyonya Yulis Widowati, S.H., sang Kajati menyerap spirit heroisme purba melalui balutan adat Kabasaran Minahasa. Rona merah saga dan mahkota mahardika yang membalut raganya menyiratkan lebih dari sekadar estetika; ia adalah semiotika dari nyali yang tak pernah pudar, sebuah ketegasan absolut dalam menakar neraca keadilan.
Di sela resonansi kultural tersebut, sebuah petuah puitis meluncur dari lisan sang Kajati, menggetarkan sanubari setiap abdi negara yang hadir.
“Wastra Nusantara yang membalut raga kita hari ini adalah metafora dari wajah hukum itu sendiri, beragam, kaya, namun diikat kokoh oleh satu benang merah kebenaran. Keadilan sejati tak pernah tercerabut dari akar budayanya. Lewat Kabasaran ini, kita diingatkan bahwa menegakkan keadilan senantiasa membutuhkan nyali seorang ksatria, yang mata pedangnya tajam tanpa pandang bulu, namun hatinya tetap berpijak pada kearifan bumi pertiwi,” dawuh Jacob Hendrik Pattipeilohy dengan bariton yang sarat akan wibawa.

Meresonansi gelombang keagungan yang sama, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulut, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, menyunggi kharisma pesisir utara dengan paripurna. Merajut ritme langkah bersama sang belahan jiwa, Nyonya Ir. H. Effy Hidayaty, M.T., beliau memanifestasikan warisan luhur Kerajaan Bolaang Mongondow lewat pesona pakaian adat Baniang. Helai demi helai tenun yang merengkuh figur mereka adalah jelmaan kebijaksanaan masa silam, menjadi lentera kearifan yang menuntun dedikasi sang jaksa di tengah labirin zaman yang kian fana.

Kala eforia perayaan itu perlahan mengendap menjadi sebuah kontemplasi, jajaran Kejati Sulut kembali memutar poros pengabdian menuju konstelasi nasional. Melalui lanskap digital Zoom Meeting, raga yang berada di Manado melebur dalam keheningan virtual, menengadahkan asa untuk menyimak pendar titah serta amanat suci dari Jaksa Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Sanitiar Burhanuddin, S.H., M.M.

Rangkaian selebrasi HBA tahun ini akhirnya diparipurnakan lewat sebuah prosesi yang sarat akan kehangatan emosional dan semiotika rasa syukur. Di penghujung acara, sang Kajati Sulut dengan penuh kharisma dan pancaran kasih sayang, berkenan menyerahkan potongan pucuk tumpeng keemasan kepada sang Wakajati.
Momen serah terima ini merepresentasikan epilog yang menyentuh sanubari; sebuah perlambang ketulusan di mana seorang pimpinan tertinggi hadir bukan sekadar sebagai panglima hukum, melainkan layaknya sosok ayah yang teduh mengayomi, serta laksana seorang kakak yang berdiri kokoh melindungi. Sebuah harmoni kepemimpinan yang menegaskan bahwa di balik balutan ragam tenun Nusantara, degup jantung para pengawal mizan keadilan ini senantiasa beresonansi pada ikatan persaudaraan yang utuh, bersama merawat tegaknya pilar hukum dan memuliakan muruah kemanusiaan.