Posted in

Resonansi Kesahajaan di Bumi Nyiur Melambai: Simfoni Keakraban Kajati dan Wakajati Sulut Menyemai Harmoni HUT ke-26 IAD

MANADO (21/07) — Aula Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara bertransformasi menjadi panggung kontemplasi yang teduh pada Selasa (21/7/2026). Di ruangan tersebut, sebuah simfoni kohesi sosial dan intimasi yang paripurna mengalun apik, mengiringi ritus selebrasi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD).

Menggaungkan tema besar bernapas nasional, “Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Peduli dan Bersinergi dengan Kejaksaan dalam Mendukung Asta Cita”, perhelatan tahun ini menanggalkan jubah kemewahan. Di tengah konstelasi efisiensi multi-sektor dan pusaran keprihatinan yang menuntut kepekaan, selebrasi ini dirajut dalam balutan kesahajaan yang asketis. Namun, absensinya gegap gempita sama sekali tidak mereduksi muruah acara; ia justru menebalkan esensi sakral dan pendar reflektif dari momentum bersejarah tersebut.

Nuansa keakraban kian menyentuh puncak sublimasi ketika Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulawesi Utara, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H., mengajak Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati), Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, untuk melintasi sekat formalitas melalui orkestrasi kolaborasi yang sangat menyentuh. Dalam sebait harmoni, keduanya berduet mempersembahkan tembang-tembang lawas nan legendaris karya Broery Marantika.

Alunan nada tersebut bukan sekadar unjuk keindahan vokal, melainkan sebuah metafora kepemimpinan yang mendalam: memperlihatkan gestur seorang ayah yang membawa serta putranya untuk mentransfer kearifan ilmu, sekaligus cerminan sosok kakak yang telaten menempa adiknya agar meresapi esensi dan substansi hakiki dari sebuah perjalanan kehidupan serta pengabdian.

Harmoni dwitunggal pimpinan ini turut direpresentasikan secara elegan oleh para pendamping teguh mereka dalam wadah IAD. Puncak kontemplasi seremonial ditandai dengan penorehan tumpeng oleh Ketua IAD Wilayah Sulawesi Utara, Ny. Yulis Widowati Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H. Dalam pendar takzim, momen tersebut didampingi secara khidmat oleh Wakil Ketua IAD, Ny. Ir. H. Effy Hidayaty, M.T. Ritus ini melampaui sekadar tradisi; ia menjelma menjadi manifestasi sujud syukur serta afirmasi atas spirit anggota IAD sebagai benteng moral, oase penyejuk, dan katalisator utama di balik dedikasi para suami pada korps Adhyaksa.

Lebih jauh, dialektika “kepedulian” dalam tema perayaan diejawantahkan secara luhur melalui pembagian santunan pendidikan kepada tunas-tunas muda keluarga besar Adhyaksa. Aksi karitatif ini menjadi penanda konkret bahwa di tengah limitasi dan adaptasi zaman, komitmen IAD untuk merawat pilar peradaban yakni pendidikan generasi penerus tetap menyala tak terpadamkan.

Menyaksikan keteladanan dan kehangatan yang terajut indah tersebut, Kajati Sulawesi Utara, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H., melontarkan refleksi puitis nan menggugah:

“Kesederhanaan yang membingkai peringatan hari ini bukanlah sebuah limitasi, melainkan wujud paling sublim dari empati, kepekaan sosial, dan soliditas kita di tengah masa efisiensi. Saya menaruh takzim pada muruah IAD yang tak pernah surut menjadi oase sekaligus fondasi moral bagi para insan Adhyaksa. Orkestrasi sinergi yang terjalin, terutama melalui atensi konkret pada pendidikan generasi penerus kita, adalah katalisator fundamental dalam mengakselerasi terwujudnya visi besar Asta Cita.”

Perhelatan penuh kehangatan ini turut disemarakkan oleh presensi paripurna jajaran pejabat utama Kejati Sulut. Para Asisten, Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU), hingga jajaran Koordinator hadir secara komprehensif, masing-masing dinaungi kehadiran hangat istri tercinta. Kehadiran kolektif ini menjadi ikrar bisu yang mengukuhkan solidaritas tanpa tepi dari seluruh elemen Kejati Sulut, melangkah seirama menyongsong fajar harapan Asta Cita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *