Posted in

Wakajati Sulut, Ferrytass., Dt. Toembidjo Singgahi Mahakarya Bahtera Masjid Al Fauzan Menuju Nagari Kapau


PADANG PARIAMAN (26/06) — Setelah menyerap euforia kebanggaan di jantung ibu kota atas pelantikan putra sulungnya sebagai ksatria penegak hukum Korps Adhyaksa, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Sulawesi Utara, H. Ferrytass., S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, langsung melakukan transisi spasial dan kultural. Pada keesokan harinya, Jumat (26/6/2026), sang Niniak Mamak bertolak kembali ke akar leluhurnya guna menunaikan urgensi kepentingan keluarga besar di kampung halaman, Nagari Kapau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Setibanya di Bandara Internasional Minangkabau, trajektori darat menuju dataran tinggi Bukittinggi-Agam tidak langsung ditempuh dalam satu tarikan napas. Beliau meluangkan waktu untuk melakukan eksodus spiritual sejenak dengan menepi di sebuah oase religi yang tengah menjadi epikentrum kekaguman publik: Masjid Al Fauzan di kawasan Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman.

Masjid ini bukanlah ruang presipitasi spiritual biasa. Menjulang dengan siluet megah menyerupai sebuah kapal pesiar (cruise ship), arsitektur Masjid Al Fauzan adalah sebuah anomali visual yang memukau mengawinkan estetika maritim modern dengan kekhusyukan transendental rumah ibadah.

Berdirinya mahakarya arsitektur ini merupakan manifestasi dari visi besar dan dedikasi salah satu putra terbaik Minangkabau, Ir. Jon Kenedi, M.Mar.Eng., M.M., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng. Tokoh nasional yang saat ini memegang tongkat komando strategis sebagai Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Makassar tersebut secara khusus mendedikasikan nama Al Fauzan yang diambil dari nama sang buah hati tercinta. Di samping kiprah birokrasinya yang gemilang di gerbang maritim Indonesia Timur, Jon Kenedi juga dikenal sebagai pilar sentral yang bernaung di bawah panji Keluarga Besar Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) Sapayuang Sulawesi Selatan.

Bagi Wakajati Sulut Ferrytass., Dt. Toembidjo, perjumpaan dengan mahakarya seorang kolega sesama diaspora Minangkabau yang tengah berkiprah di daratan Sulawesi memantik sebuah refleksi emosional yang mendalam. Menyinggahi bahtera spiritual tersebut tak ubahnya merefleksikan kembali marwah para perantau Minang yang pantang melupakan rahim tanah kelahirannya.

“Menginjakkan kaki di Masjid Al Fauzan ini memberikan sebuah resonansi batin yang luar biasa. Ini adalah manifestasi paling paripurna dari filosofi *’Satinggi-tinggi tabang bangau, suruiknyo ka kubangan juo’*. Apa yang didedikasikan oleh Saudara kita, Bapak Ir. Jon Kenedi, membuktikan bahwa seberapa pun tingginya capaian profesional seorang perantau di negeri orang, muara dari segala keberhasilan itu adalah pengabdian kembali kepada Sang Pencipta dan kampung halaman,” ungkap Ferrytass., Dt. Toembidjo dengan nada takjub dan penuh wibawa.

Lebih jauh, melihat kemegahan masjid yang diinisiasi oleh salah satu tokoh IKM Sapayuang tersebut, beliau turut melangitkan doa dan harapan solidaritas. Mengingat kedekatan wilayah tugasnya di regional Sulawesi, sang Wakajati memberikan suntikan moral bagi proyek keumatan yang saat ini tengah digagas oleh para perantau di Makassar.

“Semangat yang terpancar dari mahakarya di Ketaping ini seyogianya menjadi katalisator bagi kita semua. Saya turut mendoakan dengan segenap ketulusan, semoga ikhtiar Keluarga Besar IKM Sapayuang Sulawesi Selatan yang saat ini tengah mengakselerasi pembangunan masjid mereka, diberikan kemudahan, kelancaran, dan dapat segera rampung secara sempurna. Biarlah rumah-rumah Allah yang dibangun oleh tangan-tangan perantau Minang ini kelak menjadi mercusuar peradaban yang menerangi generasi ke generasi,” pungkas beliau menutup refleksinya.

Usai menunaikan ibadah dan meresapi magisnya arsitektur Al Fauzan, Ferrytass., Dt. Toembidjo kembali melanjutkan roda perjalanannya membelah pesona alam Sumatera Barat. Sang praktisi hukum senior dan pemangku adat ini bersiap kembali membaur dalam kehangatan komunal di Nagari Kapau, merajut kembali silaturahmi, dan menunaikan amanah keluarga dengan spirit yang kini semakin dipertajam oleh rentetan rasa syukur tiada henti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *