MANADO (07/09) — Perayaan yang bermula pada Minggu malam, 6 September 2026, perlahan larut dan meretas batas hari. Jarum jam terus bergulir, menunjuk pada waktu 00.50 WITA di ambang dini hari Senin, 7 September 2026. Namun, pendar cahaya dan kehangatan di kediaman rumah dinas Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Jalan Ch. Taulu, Kota Manado, sama sekali enggan meredup. Di bawah temaram malam yang diselimuti rintik embun, seluruh insan Adhyaksa Bumi Nyiur Melambai merajut sebuah epos kebersamaan, merayakan swastamita enam dekade sang nakhoda, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H., sekaligus mengiringi senjakala masa purnabaktinya.

Bukan sekadar perayaan yang hingar-bingar, momentum itu menjelma menjadi ejawantah dari rasa takzim kolektif. Perayaan berlangsung dalam balutan khidmat yang syahdu. Di tengah pusaran kebahagiaan tersebut, terekam sebuah kesaksian batin dari Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, yang memaknai secara mendalam kebersamaannya dengan sang Kajati.
“Empat setengah purnama saya berada di samping beliau dalam palagan penegakan hukum ini. Waktu yang secara matematis mungkin terasa singkat, namun dalam ruang batin dan rekam jejak, ini adalah sebuah residensi kepemimpinan yang paripurna,” ungkap Dr. Ferrytass menyiratkan ketulusan yang mendalam.
Sosok Wakajati melukiskan kepemimpinan Jacob Hendrik sebagai sebuah entitas ‘kemahaguruan’. Di mata sang Wakil, Kajati bukan sekadar aparatur struktural, melainkan Sang Guru, seorang ksatria adiluhung yang memimpin dengan visi melintas zaman dan nurani sebagai panglimanya.
“Beliau adalah Sang Guru bagi kita semua; seorang inspirator, motor penggerak, sekaligus deklarator bagi lahirnya berbagai embrio organisasi bentukan yang kini menjadi pilar penyangga institusi. Namun, mahakarya terbesar beliau bukanlah pada deretan beleid semata, melainkan pada kelembutan karsa dan pendekatan hati saat merangkul setiap stafnya,” urai tokoh bergelar Dt. Toembidjo tersebut penuh makna.
Dalam kacamata sosiologis internal Kejati Sulut, apa yang dirasakan sang Wakajati memotret sebuah realitas yang tak terbantahkan. Ada satu warisan tak kasatmata yang diukir oleh Sang Guru: sebuah ekuilibrium iklim kerja yang dinamakan “kenyamanan”.

Di bawah komando Sang Guru, ritme kerja kejaksaan yang secara kodrati sarat beban dan tekanan, berhasil ditransformasi menjadi orkestrasi yang nirbeban. Setiap insan Adhyaksa mengeksekusi titah dan amanat pimpinan dengan jiwa yang merdeka, enjoy, dan penuh kesadaran. Sebuah seni manajemen kepemimpinan tingkat tinggi di mana kepatuhan dan loyalitas lahir dari rahim kecintaan, bukan dari bayang-bayang ketakutan.
Lebih jauh, Dr. Ferrytass turut menyoroti keteduhan mahkamah keadilan di Bumi Nyiur Melambai. Di tangan Sang Guru, hukum tidak dihunuskan bagai pedang yang membabi buta.
“Ketajaman pedang hukum beliau diayunkan dengan begitu smooth, begitu presisi. Menghunjam akar kejahatan, menegakkan keadilan, namun tidak sedikit pun menebar riak gejolak di tengah samudera masyarakat,”
Kesaksian itu seolah mewakili palung hati terdalam para pegawai, sebuah refleksi yang mampu membuat siapa pun terharu menyadari betapa dalam dan sejuknya kepemimpinan yang selama ini menaungi mereka.
Dini hari di kediaman itu akhirnya ditutup bukan sekadar dengan potongan kue atau nyala lilin yang ditiup, melainkan dengan pijar kebersamaan yang akan terus menyala. Di bawah langit Manado yang mulai menua menyambut fajar, sosok Jacob Hendrik Pattipeilohy telah dipahat; bukan pada batu prasasti yang dingin, melainkan pada denyut nadi setiap pegawai yang pernah mengecap kemahaguruan Sang Guru.
