MINAHASA UTARA, (02/09) – Menyambut arunika di ufuk timur, Korps Adhyaksa kembali menorehkan tinta emas dalam mahakarya perjalanannya. Tepat pada tarikh 2 September 2026, Kejaksaan Republik Indonesia merayakan Hari Lahir (Harlah) yang ke-81. Di bawah naungan langit bumi Nyiur Melambai, denyut nadi peringatan agung ini terpusat di pelataran Kejaksaan Negeri Minahasa Utara, yang didapuk menjadi saksi bisu berkumpulnya seluruh punggawa hukum jajaran Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara.

Tampil sebagai Inspektur Upacara, sang manggala penegak hukum, Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara Jacob Hendrik Pattipeilohy S.H., M.H. Dengan wibawa nan teguh, beliau memimpin jalannya mahasabha ini, membawa panji-panji asa luhur yang terangkum dalam tajuk: “Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui Penegakan Hukum Berintegritas, Adil dan Humanis.”

Sebagai wujud purna bakti dan penghormatan terhadap marwah institusi, segenap abdi negara menjejakkan kaki di medan darma dengan balutan Pakaian Dinas Lapangan (PDL) paripurna berhias kopel hitam, sebuah simbolisasi ketegasan, kedisiplinan, dan kesatriaan yang tak lekang oleh waktu.

Ada nuansa magis nan istimewa yang membedakan perhelatan akbar tahun ini dari masa-masa silam. Sebuah mandat mahardika diamanatkan kepada seluruh Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi di seantero Nusantara, tak terkecuali di ranah Sulawesi Utara. Dalam seremonial yang digelar serentak di penjuru negeri, para pimpinan ini didaulat menjadi pendaras sejarah, bertugas membacakan narasi agung Sejarah Kejaksaan RI.

Suara lantang sang Wakajati Sulut Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo menggemakan kembali memori kolektif bangsa, merunut jejak peradilan sejak era Herzien Inlandsch Reglement (HIR), melintasi masa Dai Nippon, hingga tiba pada momentum sakral 2 September 1945. Sebuah epik sejarah manakala Presiden Soekarno, di tengah pusaran revolusi kemerdekaan, melantik Mr. Gatot Tarunamihardja sebagai Jaksa Agung perdana. Momentum historis inilah yang menjadi landasan filosofis penetapan 2 September sebagai hari lahir sejati institusi penuntut umum, meretas paradigma lama demi menegakkan kebenaran paripurna.

Pembacaan riwayat ini bukanlah sekadar ritus seremonial belaka, melainkan sebuah laku kontemplatif untuk meresapi spirit esensial Tri Krama Adhyaksa—Satya, Adhi, Wicaksana. Melalui pendaran sejarah yang dibacakan serentak tersebut, terselip karsa agar seluruh insan Adhyaksa mampu menyerap saripati kebijaksanaan para pendahulu.
Di usianya yang kini menginjak 81 tahun, Kejaksaan Republik Indonesia terus memacu roda transformasi. Melangkah pasti dari masa lampau menuju Single Prosecution System (sistem penuntutan tunggal), Kejaksaan berdiri kokoh sebagai panglima penegakan hukum yang bermartabat, demi terwujudnya tatanan Nusantara yang berkeadilan, gemilang, dan sentosa.
Salam Adhyaksa! Salam Transformasi!
