BITUNG, (14/08) — Seiring embusan bayu laut dan pendar keemasan mentari pagi yang menghangatkan hamparan biru perairan Bitung, sebuah perhelatan sarat makna kemaritiman resmi dibentangkan. Tepat pada Jumat, 14 Agustus 2026, Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VIII merayakan hari jadinya yang pertama lewat sebuah bentang pelayaran bertajuk “Joy Sailing”. Lebih dari sekadar pesiar di atas buih gelombang, agenda ini menjelma menjadi kanvas megah tempat rajutan silaturahmi dan peninjauan denyut nadi potensi bahari Selat Lembeh dilukiskan.

Beranjak dari Dermaga Samuel Languyu Bitung pada pukul 06.30 Wita, aura sinergitas lintas instansi terasa begitu kental memenuhi ruang udara pagi. Panggilan samudera ini direspons dengan presensi oleh tokoh-tokoh penting pelbagai sektor. Berdasarkan manifes undangan resmi, kemegahan silaturahmi ini merangkul empat pilar utama penopang kemajuan daerah yang membalut diri dalam seragam combat suit bernapaskan kebanggaan maritim.
Menghadirkan kekuatan penuh pimpinan daerah mulai dari Gubernur dan Wakil Gubernur, Ketua DPRD, Pangdam XIII/Merdeka, Kapolda, Kepala Kejaksaan Tinggi, Ketua Pengadilan Tinggi, Kabinda, Danlanud Sam Ratulangi, Danrem 131/Santiago, Danguskamla Koarmada II, Kazona Tengah Bakamla RI, Kakanwil Kemenkumham Sulut, Kepala BNN, Kabasarnas, hingga Sekretaris Daerah Provinsi.

Kepala Daerah se-Sulawesi Utara: Turut diundang lima belas pemimpin kawasan yang menjadi ujung tombak otonomi daerah; mencakup jajaran Wali Kota (Manado, Bitung, Tomohon, Kotamobagu) hingga para Bupati (Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Bolaang Mongondow, Bolmong Utara, Bolmong Selatan, Bolmong Timur, Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, dan Kepulauan Sitaro).
Dihadiri oleh Pejabat Utama serta Dan/Kadis/Kasatker di lingkungan internal armada yang menjadi tuan rumah perhelatan. Diperkuat oleh kehadiran elemen penggerak ekonomi, yakni Pimpinan Area Head Bank Mandiri Sulawesi Utara & Gorontalo, serta Business Unit Head PT. MNS (Wilmar Group) Bitung.

Menggenapkan presensi wajah penegakan hukum dalam keselarasan pelayaran yang merangkul segenap Forkopimda tersebut, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, hadir membelah teduhnya perairan. Kehadiran beliau menjadi representasi paripurna dari institusi Adhyaksa, sebuah wujud nyata dari spirit kolaborasi antarlembaga negara di tapal batas utara Nusantara.
Tepat saat jarum jam menunjuk angka 07.00 Wita, armada dengan anggun melepaskan pelukan dermaga. Di atas geladak KRI Selar yang gagah mengarungi kawasan Makawidey, rangkaian acara seremonial terbingkai khidmat. Pada pukul 07.05 Wita, gema pidato Komandan Kodaeral VIII menyapa cakrawala pesisir, yang kemudian disusul pada pukul 07.15 Wita oleh diksi-diksi sarat visi dari Gubernur Sulawesi Utara dalam membingkai mahakarya potensi kelautan daerah.

Namun, esensi paling puitis dari pelayaran ini menemukan muaranya di tengah buaian ombak Perairan Makawidey. Kepedulian negara mewujud dalam aksi nyata ketika tangan-tangan para pemangku kebijakan turut menyaksikan penyerahan untaian tali asih berupa bantuan sembako kepada para pahlawan laut—perwakilan nelayan tradisional Bitung. Sebuah gestur empati yang menegaskan bahwa negara senantiasa hadir merangkul mereka yang hidupnya bergantung pada ritme pasang-surut lautan.
Menyaksikan momen sarat humanisme di atas riak gelombang Makawidey tersebut, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara menyampaikan refleksi pamungkas yang menggugah jiwa.
“Lautan ini adalah saksi bisu kebersamaan kita. Membawa pesan dan arahan langsung dari Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Bapak Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H., kami ingin memastikan bahwa di mana pun riak gelombang kesejahteraan masyarakat bermuara, di situlah Kejaksaan akan selalu tegak berdiri, mengawal kemajuan bumi Nyiur Melambai dalam simpul persaudaraan,” pungkas Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo dengan tatapan yang menyapu luasnya cakrawala Makawidey.
Epilog pelayaran “Joy Sailing” ini akhirnya menepi dan merapat kembali ke pelukan Dermaga Satrol Bitung pada pukul 08.15 Wita. Perjalanan fisik melintasi selat mungkin telah purna, namun gelombangnya meninggalkan jejak persaudaraan yang abadi; sebuah konfirmasi visual bahwa aparatur penegak hukum, armada pertahanan laut, pemimpin daerah, dan mitra strategis mampu berpadu selaras, merawat takdir Sulawesi Utara sebagai beranda maritim yang digdaya, sejahtera, dan berkeadilan.