MAKASSAR (28/05) — Gema takbir yang mengangkasa di ufuk Idul Adha 1447 Hijriah perlahan melandai, meninggalkan keheningan malam yang sarat akan keberkahan usai prosesi sakral penyembelihan hewan qurban keluarga besar IKM Sapayuang. Di bawah siraman pendar lampu Kota Makassar, kehangatan ibadah qurban tersebut berlanjut dan melebur dalam sebuah perjamuan malam yang penuh khidmat di RM. Annisa Minang, Jalan Mappaodang Kota Makassar.
Jamuan istimewa ini diinisiasi langsung oleh Bendahara IKASMIN-SS, Hendri Sutan Pado, sebagai pemilik usaha kuliner minang tersebut. Di meja panjang, ia didampingi oleh saudaranya, Da Men, yang mengelola jalannya restoran dengan ketulusan khas Ranah Minang. Malam itu, mereka menjamu sang Dewan Pembina IKM Sapayuang yang juga Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, H. Ferry Tas, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo. Kehadiran beliau tampak selaras didampingi oleh Sekretaris Jenderal IKASMIN-SS sekaligus sesama Dewan Pembina IKM Sapayuang, Isnaini Al Ihsan, S.H., Dt. Mangkuto Alam. “Duo Datuak” ini hadir membawa kharisma Niniak Mamak dan simbol keteguhan adat di tanah rantaun.
Di tengah lahapnya menikmati hidangan mahakarya rempah otentik Minangkabau, suasana malam kian hidup dan bermakna dengan kehadiran Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, dr. Hj. Nilal Fauziah, M.Kes. Kehadiran srikandi kesehatan ini bukan sekadar tamu biasa, melainkan sebagai bagian dari jamaah yang ikut menunaikan ibadah qurban bersama IKM Sapayuang tahun ini.
Bagi Ferrytas., Dt. Toembidjo sosok Nilal Fauziah laksana lembaran buku lama yang kembali terbuka. Benang merah takdir pernah mempertemukan mereka saat sang Datuak menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Takalar di masa lalu. Berawal dari nostalgia tugas kedinasan, obrolan santai di meja makan itu perlahan-lahan mengalir, bermutasi menjadi sebuah diskusi sejarah yang teramat puitis, mendalam, dan sarat akan nilai spiritualitas Islami.
Perbincangan hangat tersebut bermuara pada kisah heroik masuknya cahaya Islam di tanah Celebes yang dibawa oleh tiga ulama besar asal Minangkabau pada abad ke-17, yang masyhur dikenal sebagai Tiga Datuk: Datu Ri Bandang, Datu Ri Tiro, dan Datu Patimang.
Dengan nada suara yang tegas namun bergetar oleh rasa takzim, dr. Hj. Nilal Fauziah kemudian menyingkap sebuah fakta sejarah. Beliau menceritakan bahwa garis nasib menempatkan makam salah satu dari ulama suci tersebut, yakni Datu Ri Tiro, berada tepat di kampung halamannya sendiri, yaitu di Kampung Hila-Hila, Desa Eka Tiro, Kecamatan Bonto Tiro, Kabupaten Bulukumba.
“Kampung Hila-Hila bukan sekadar tempat saya membuka mata melihat dunia, melainkan rahim dari peradaban Islam yang dihidupkan oleh Datu Ri Tiro. Mendengar dan mewarisi kisah karomah beliau dari lisan orang tua saya adalah sebuah anugerah. Hari ini, melalui ibadah qurban bersama IKM Sapayuang, saya merasa seperti menyambung kembali sanad persaudaraan yang telah dirajut ratusan tahun lalu oleh sang ulama Minangkabau dengan tanah leluhur saya di Bulukumba,” ungkap dr. Nilal Fauziah di sela-sela perbincangan.
Mendengar bait-bait sejarah dan rentetan karomah Datu Ri Tiro yang mengalir fasih dari penuturan Nilal Fauziah, Dt. Toembidjo dan Dt. Mangkuto Alam seketika terkesima. Sebagai pemangku adat Minangkabau yang menyandang gelar Datuak, ada rasa takjub dan haru yang membuncah di dada mereka. Sejarah seolah kembali mempertegas betapa kokohnya ikatan batin spiritual antara Ranah Minang dan Bumi Sulawesi.
“Subhanallah, malam ini Allah menyingkap tabir sejarah dengan cara yang teramat indah. Mendengar tuturan dari Ibu Kadis—kolega lama saya di Takalar—tentang jejak karomah Datu Ri Tiro, membuat dada ini bergetar. Sebagai seorang Datuak, ini adalah pengingat spiritual bahwa tugas seorang pemangku adat bukanlah sekadar menjaga tradisi, melainkan menjadi suluh penerang yang menebar rahmat, sebagaimana para pendahulu kita menanamkan benih tauhid di tanah Celebes ini,” tutur Ferrytass., Dt. Toembidjo.
Senada dengan hal itu, Dt. Mangkuto Alam ikut menambahkan refleksi mendalamnya terhadap benang merah sejarah tersebut. “Cerita malam ini adalah bukti nyata bahwa pepatah ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’ telah diamalkan secara paripurna oleh para pendahulu kita. Kisah Datu Ri Tiro yang dijaga dengan penuh kehormatan adalah monumen tak kasat mata betapa Minangkabau dan Bugis Makassar disatukan oleh ikatan aqidah yang tak lekang oleh zaman. Ini adalah kebanggaan yang harus kita teruskan sebagai suluh bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Getaran spiritualitas dan kekaguman yang mendalam dari pertemuan malam itu akhirnya melahirkan sebuah keputusan besar. Di penghujung jamuan makan malam yang berkah tersebut, “Duo Datuak” secara spontan namun penuh kemantapan hati merancang sebuah rencana besar. Mereka bertekad dalam waktu dekat akan melakukan perjalanan ziarah spiritual ke makam Datu Ri Tiro di Bulukumba.
Langkah ziarah ini diniatkan bukan sekadar pelesiran sejarah, melainkan sebuah ikhtiar suci untuk menjemput berkah, menyusuri kembali tapak tilas dakwah leluhur, serta memperkokoh jembatan silaturahmi yang telah dibangun lewat darah, doa, dan air mata para waliyullah di tanah Sulawesi.
Merajut Ukhuwah di Ujung Senja Idul Adha: Dari Qurban hingga Jejak Syiar Tiga Datuk di Tanah Celebes