Di bawah langit kebudayaan yang dipenuhi makna dan napas spiritualitas, sebuah panggung megah bertajuk Literature On Stage “Tiga Datuk: Adat, Syarak, dan Tauhid” sukses digelar pada Sabtu malam, 28 Maret 2026, pukul 19.00–21.00 WIB, di Gedung Kesenian Miss Tjitjih.

Karya panggung yang digagas oleh Ismi Seneng Nuppu dari Kerukunan Keluarga Luwu Raya ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah rekonstruksi narasi sejarah yang menghidupkan kembali jejak dakwah tiga ulama besar penyebar Islam di Sulawesi Selatan: Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Ri Patimang.

Malam itu, kehadiran Dewan Pembina Ikatan Keluarga Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan, Ferry Tass., Dt. Toembidjo, menjadi simbol kuat persilangan nilai antara adat Minangkabau dan khazanah budaya Bugis-Makassar. Kehadirannya tidak hanya sebagai tamu kehormatan, tetapi juga sebagai representasi nilai luhur “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandikan Kitabullah” yang sejalan dengan tema besar pertunjukan.

Lebih dari itu, sosok H. Ferry Taslim, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo bukanlah figur yang asing bagi Tanah Sulawesi Selatan. Jejak pengabdiannya terpatri kuat dalam lintasan birokrasi dan penegakan hukum di wilayah ini, pernah menjabat sebagai Koordinator Pidana Khusus Kejati Sulawesi Selatan pada tahun 2011, Pelaksana Tugas Kajari Malili di tahun yang sama, dilanjutkan sebagai Pelaksana Tugas Kajari Takalar pada 2012, hingga dipercaya sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Takalar. Kiprah tersebut berlanjut dengan amanah strategis sebagai Asisten Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejati Sulawesi Selatan pada tahun 2022. Rekam jejak ini menjadikan kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan representasi emosional dan historis antara dirinya dan Sulawesi Selatan.

Bahkan hingga saat ini, Dt. Toembidjo masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir dalam proses penyelesaian disertasi pada Program Doktoral Ilmu Hukum di Universitas Hasanuddin.

Dalam kiprah kepemimpinannya, Dt. Toembidjo juga menjabat sebagai Ketua Presidium DKM Baitul Adli Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan selama tiga tahun berturut-turut sejak 2022 hingga 2025. Di bawah kepemimpinannya, terjadi transformasi signifikan, termasuk rebranding masjid dari nama sebelumnya “Al-Adhli” menjadi “Baitul Adli”, yang kini menjelma sebagai ikon kebanggaan umat Muslim di Makassar.
Masjid tersebut tampil megah dengan arsitektur struktural yang elegan dan sarat makna filosofis, mengadopsi bentuk kapal phinisi yang berpadu dengan kubah menyerupai songkok guru—sebuah simbol representatif dari empat etnis besar di Sulawesi Selatan. Visualisasi ini menghadirkan imaji sebuah kapal yang tengah berlayar di samudra luas, berdiri kokoh dan monumental di kawasan strategis poros Jalan Urip Sumoharjo, tepat di jalur utama penghubung Bandara–Pettarani.

Keseluruhan konsep tersebut menjadi representasi nyata dari akulturasi budaya Sulawesi Selatan yang dikurasi dengan visi besar dan sentuhan kepemimpinan seorang Datuk asal Minangkabau—menghadirkan harmoni antara nilai adat, simbol kultural, dan semangat modernitas dalam satu karya arsitektural yang inspiratif.

Dalam kesempatan tersebut, beliau seorang Niniak Mamak Minangkabau, Pemangku Adat dari Suku Melayu Nagari Kapau, Kabupaten Agam/Bukittinggi, Sumatera Barat, menyampaikan refleksi mendalam yang sarat makna:

“Pertunjukan ini bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan cermin peradaban. Di dalamnya kita melihat bagaimana adat dimuliakan, syarak ditegakkan, dan tauhid dijadikan pusat kehidupan. Apa yang diwariskan oleh Tiga Datuk sejatinya sejalan dengan falsafah Minangkabau; Adat Basandi Syarak, Syarak Basandikan Kitabullah. Ini bukan hanya warisan sejarah, tetapi kompas moral yang harus terus kita hidupkan, terutama di rantau.”

Mengalir lebih dalam, pertunjukan ini sesungguhnya berdiri di atas fondasi sejarah panjang yang agung. Tiga tokoh yang diangkat bukan sekadar figur dramatik, melainkan pilar peradaban Islam Nusantara yang jejaknya tertanam kuat sejak awal abad ke-17. Datuk Ri Bandang (Abdul Makmur/Khatib Tunggal), Datuk Ri Tiro (Syekh Nurdin Ariyani/Khatib Bungsu), dan Datuk Ri Patimang (Datuk Sulaiman/Khatib Sulung) merupakan ulama besar asal Koto Tengah, Minangkabau, Sumatera Barat, yang mengemban misi dakwah lintas wilayah dengan pendekatan yang jauh melampaui zamannya.

Dengan kearifan yang mengakar, Datuk Ri Bandang menapaki wilayah utara Sulawesi Selatan; Gowa, Tallo, Maros, Pangkajene, hingga Sidenreng Rappang dan Wajo dan menorehkan tonggak sejarah monumental dengan mengislamkan Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1605, sebuah peristiwa yang mengubah lanskap keagamaan kawasan tersebut secara fundamental.

Sementara itu, Datuk Ri Patimang mengarungi wilayah timur, menembus pusat-pusat kekuasaan seperti Bone, Soppeng, Barru, hingga Pinrang, dengan fokus utama pada Tana Luwu. Di sana, beliau menanamkan nilai-nilai tauhid dalam harmoni adat, menjadikan Islam tumbuh sebagai bagian organik dari struktur sosial masyarakat.

Adapun Datuk Ri Tiro menapakkan dakwahnya di wilayah selatan; Tiro, Bulukumba, Bantaeng, hingga Tanete, menghadirkan pendekatan spiritual yang lembut namun mendalam, hingga akhirnya dikenang sebagai ulama yang menyatu dengan masyarakatnya di Bonto Tiro.

Ketiganya tidak datang sebagai penakluk, melainkan sebagai penuntun. Mereka tidak meruntuhkan adat, melainkan merangkulnya. Dakwah yang mereka bawa bukanlah konfrontasi, melainkan akomodasi, mengharmonikan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal, sehingga lahirlah sebuah peradaban yang berakar kuat namun tetap menjulang tinggi.

Pertunjukan ini semakin hidup dengan orasi budaya yang menggugah oleh Opu Topapoatae H. Andi Maradang Mackulau Opu To Bau’ Datu Luwu XL, yang mengalirkan narasi historis dengan diksi yang sarat makna, menghubungkan masa lalu dengan realitas kebangsaan hari ini. Di bawah arahan sutradara Sabilul Razak, panggung disulap menjadi ruang kontemplatif yang memadukan dramatika, spiritualitas, dan estetika visual.

Penampilan para aktor utama pun tampil memukau, Syam Ancoe Amar sebagai Datuk Ri Tiro, Ilham Anwar sebagai Datuk Ri Patimang, dan Boet Bismar sebagai Datuk Ri Bandang, yang berhasil menghadirkan kedalaman karakter serta ruh dakwah yang penuh hikmah.

Tema “Adat, Syarak, dan Tauhid” yang diusung menjadi refleksi penting bagi masyarakat Indonesia modern, bahwa harmoni antara budaya dan agama bukanlah sesuatu yang dipertentangkan, melainkan dipersatukan dalam satu tarikan napas peradaban.

Lebih dari sekadar pertunjukan, malam itu adalah peristiwa kultural, sebuah mahakarya yang tidak hanya ditonton, tetapi dirasakan; tidak hanya dipahami, tetapi direnungkan. Sebuah panggilan sunyi yang menggema lantang: bahwa peradaban besar selalu lahir dari pertemuan antara adat, syarak, dan tauhid dalam satu kesatuan yang utuh dan berdaulat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *