Posted in

Mimbar Fajar Pamungkas: Baskara Kehormatan Mengiringi Apel Terakhir Kajati Sulut Jacob Hendrik Pattipeilohy

MANADO (07/09) — Sinar arunika yang membasuh langit Kota Manado pada Senin pagi, 7 September 2026, menjadi saksi bisu atas sebuah momentum historis di lanskap penegakan hukum Bumi Nyiur Melambai. Di tengah hamparan Lapangan Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara, embusan angin terasa membawa resonansi yang berbeda. Dengan langkah tegap nan berwibawa, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H., menaiki mimbar kehormatan, memimpin apel pagi untuk yang terakhir kalinya sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara.

Momen pamungkas ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan sebuah ejawantah dari rasa takzim komunal yang mengakar kuat. Tercatat, 96 persen dari total kekuatan formasi meliputi Jaksa, pegawai, hingga staf jajaran Kejati se-Sulawesi Utara hadir membentuk barisan yang presisi. Lautan seragam cokelat yang memenuhi lapangan pagi itu seolah menjelma menjadi orkestrasi loyalitas tanpa kata; sebuah penghormatan paripurna bagi sang nakhoda di ujung masa baktinya.

Turut berdiri tegak mendampingi beliau dalam apel perpisahan yang sarat makna ini adalah Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo. Kehadiran sang Wakajati di sisi Jacob Hendrik memancarkan aura dwitunggal kepemimpinan yang kokoh. Keduanya berdiri laksana dua ksatria hukum yang selama ini saling menopang, menjaga muruah mahkamah keadilan agar tetap tegak, teduh, dan tak tergoyahkan.

Kesunyian yang khidmat menyelimuti seluruh penjuru lapangan saat amanat mulai disuarakan. Setiap kalimat yang menggema dari atas mimbar tak pelak meresap hingga ke relung sanubari setiap insan Adhyaksa yang hadir. Tidak ada hiruk-pikuk; yang tertinggal hanyalah ketundukan batin barisan abdi negara yang tengah menyaksikan seorang panutan bersiap melipat layar pengabdiannya di institusi tersebut.

Tingkat kehadiran yang nyaris sempurna di lapangan pagi itu menjadi proklamasi bisu. Angka 96 persen bukanlah sekadar statistik presensi, melainkan cerminan dari wibawa sang pemimpin yang berhasil memenangkan hati pasukannya. Tatapan mata para peserta apel merefleksikan perpaduan antara rasa bangga yang membuncah dan elegi perpisahan yang tertahan.

Ketika barisan pada akhirnya dibubarkan, gema langkah kaki di atas aspal lapangan Kejati Sulut tidak lantas menyapu jejak memori pagi itu. Apel fajar pada 7 September ini telah dipahat sebagai sebuah epilog pengabdian yang megah. Jacob Hendrik Pattipeilohy kini telah turun dari mimbar lapangan, namun warisan keteladanannya akan terus berdiri tegak di dalam sanubari setiap penjaga keadilan di Sulawesi Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *