TOMOHON, (22/08) – Setelah meretas tapak tilas yang nirmala (suci/bersih) di kaki Gunung Lokon pada Sabtu (22/8) pagi, lakon agung Family Gathering keluarga besar Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara rupanya belum genap seutuhnya. Sebelum memutar haluan, menuruni perbukitan kembali menuju hiruk-pikuk Kota Manado, samudaya (seluruh) insan Adhyaksa merajut satu lagi noktah kenangan. Sebuah pasamuan (pertemuan) pamungkas digelar dalam balutan jamuan makan siang bersama di Linow Coffee Shop, sebuah sanctuarium eksotis yang memeluk erat tepian Danau Linow, Tomohon.

Kedatangan rombongan yang senantiasa dikawal oleh sang manggala (pemimpin) Dwitunggal Adhyaksa Sulut, Kepala Kejaksaan Tinggi, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H., bersama Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, seakan langsung disambut oleh sapaan alam yang magis.
Danau Linow, dengan tirta (air) vulkanik yang senantiasa menarikan pendar pancawarna, berganti rupa dari siluet kehijauan, pendar kebiruan, hingga memantulkan rona amber menjadi kanvas alam yang begitu elok melatarbelakangi kebersamaan mereka. Hembusan pawana yang membawa harum semerbak kopi bersatu dengan udara khas pegunungan, menciptakan harmoni rasa yang seketika memanjakan indera dan merelaksasi raga.

Di pelataran kayu Linow Coffee Shop yang menyuguhkan lanskap lazuardi (biru langit) tanpa sekat ini, sisa-sisa jarak dan formalitas kian melebur tak bersisa. Seluruh jajaran Asisten, Koordinator, Kepala Seksi, hingga para staf dan pegawai duduk berdampingan. Gelak tawa dan percakapan hangat mengalun syahdu di sela-sela denting sendok dan piring jamuan siang.
Bagi keluarga besar Kejati Sulut, momen perjamuan ini bukan semata pemenuhan dahaga raga usai menempuh rute Fun Walk. Jamuan di tepi Linow ini adalah sebuah ritus pengukuhan swacitta (ketenangan jiwa) dan karsa (daya cipta) sebelum mereka kembali mengarungi padatnya realitas penegakan hukum. Sembari menikmati kehangatan hidangan lokal khas Minahasa, setiap insan Adhyaksa saling berbagi cerita, membingkai setiap detik yang tersisa dalam sebuah memori yang amerta (abadi).
Tatkala baskara (matahari) perlahan mulai condong bersiap menyapa ufuk barat, usai sudahlah seluruh rangkaian epos persaudaraan di tanah Tomohon yang telah terjalin sejak 21 Agustus kemarin. Jamuan siang di tepi keajaiban Danau Linow ini menjadi pramodana (sukacita tertinggi) sekaligus penutup yang paripurna.
Dengan batin yang terkalibrasi penuh oleh shanti (kedamaian) alam dan ikatan kekeluargaan yang kian mengerat, samudaya keluarga besar Kejati Sulut akhirnya bertolak meninggalkan hawa sejuk Tomohon.
Kembali meluncur ke arah Manado, rombongan ini tidak sekadar membawa raga yang bugar atau cinderamata di genggaman, melainkan membawa pulang sebuah energi dharma yang baru, siap untuk kembali ditebar bagi keadilan di seantero tanah Nyiur Melambai.