MANADO, (17/08) — Fajar kemerdekaan menyingsing dengan rona jingga yang membias di ufuk timur, menandai momentum sakral bagi ibu pertiwi. Tepat pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, episentrum patriotisme Sulawesi Utara berpusat di Lapangan Kantor Gubernur, Jalan 17 Agustus, Kota Manado.
Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus, S.E., berdiri tegap sebagai Inspektur Upacara, memimpin orkestrasi perayaan kemerdekaan yang dirajut dalam balutan khidmat dan keagungan paripurna.

Jarum jam menunjuk tepat pada pukul 07.30 WITA tatkala simfoni nasionalisme mulai dikumandangkan. Detik-detik proklamasi merobek keheningan pagi, di mana naskah bersejarah tersebut dilantunkan dengan lantang dan penuh wibawa oleh Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Gema kemerdekaan itu kemudian disambut oleh pembacaan teks Pancasila yang dikomandoi langsung oleh Gubernur Yulius Selvanus, meresapkan kembali falsafah luhur negara ke dalam sanubari setiap insan yang hadir. Tak ketinggalan, untaian historis Pembukaan UUD 1945 dibacakan dengan artikulasi nan tegas oleh Kepala Bappeda Sulut, mengukuhkan janji suci konstitusi bangsa.
Panggung kehormatan ini tak hanya disaksikan oleh barisan tegap Paskibraka Sulut dan jajaran pejabat Pemerintah Provinsi, namun juga dihiasi oleh konstelasi figur sentral Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulawesi Utara yang hadir lengkap beserta pendamping masing-masing.

Di antara deretan pilar penegak keadilan, hadir Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo. Kehadiran beliau menjadi manifestasi representasi dari Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H. Pada detak waktu yang beriringan, sang Kajati tengah menunaikan amanah luhurnya sebagai Inspektur Upacara pada gelaran peringatan internal di halaman markas besar korps Adhyaksa Kejaksaan Tinggi.
Dari sudut utara jazirah Sulawesi, di bawah kibaran perlahan Sang Merah Putih, sebentuk pesan moral dilangitkan. Peringatan dirgahayu ke-81 ini bukanlah sekadar seremonial usang yang lekang oleh waktu, melainkan kawah candradimuka untuk terus mengobarkan pendar api persatuan dan napas gotong royong. Sebuah ikhtiar kolektif dari Sulawesi Utara, dipersembahkan demi meretas jalan panjang menuju Nusantara yang kian digdaya dan bergelimang kemajuan.
Merdeka!