MANADO (20/07) — Jarum jam terus merayap, dan angka kacamata 0-0 yang terpampang hingga menit ke-85 seolah membekukan waktu. Di layar kaca, duel klimaks Final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol menyajikan ketegangan yang mengoyak jantung. Namun, di sudut Rusun Baruga Adhyaksa Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara Heibat, ketegangan itu justru mencair, dilebur oleh kehangatan sebuah nirsekatan ketika batas-batas hierarki birokrasi luruh di bawah langit Juli yang temaram.
Senin (20/7/2026) dini hari menjadi saksi bisu hadirnya sebuah oase kebersamaan. Di tengah kerumunan kecil anak-anak kos perantauan yang tengah merajut asa di bumi Nyiur Melambai, hadir sesosok pimpinan yang melebur tanpa jarak. Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulut, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, duduk bersahaja. Beliau menanggalkan sejenak jubah kebesarannya untuk sekadar menjadi bagian dari detak kegelisahan sekaligus kegembiraan para penghuni rusun.
Sang Doktor, yang pada malam syahdu itu menaruh karsa dan harapan pada La Albiceleste (Argentina), tampak begitu khusyuk mengamati setiap inci pergerakan bola yang terus menemui jalan buntu. Namun, beliau tak merengkuh ketegangan itu sendirian.

Turut membersamai dalam pendar kesederhanaan tersebut jajaran pejabat teras Kejati Sulut; Aspema Suwirjo, Aspidsus Zein Munggaran, Asdatun Andi Usama, dan Asbin Fachri Firdaus. Hadir pula membaur para pilar penggerak: Koordinator 1 Ali Toatobun, Koordinator 2 Ulfa Madrian, Koordinator Raden Bayu, beserta para Kasi dan segenap anggota Kosan Rusun Baruga Adhyaksa.
Harmoni malam kian paripurna tatkala lidah dimanjakan oleh penganan karsa yang otentik. Hiruk-pikuk dan helaan napas kecewa dari sisa waktu pertandingan ditemani oleh renyahnya pisang goroho goreng, kian nikmat saat bersanding dengan pedas-gurihnya sambal terasi, serta kudapan legendaris, kacang Tore Batik khas Manado. Udara dini hari yang mulai menggigit kulit pun ditepis oleh hangatnya seduhan jahe gula aren dan kopi susu panas, mengalirkan keakraban di setiap sesapannya.
Namun, estetika sejati dari malam itu bukanlah semata tentang peluit panjang atau siapa yang kelak mengangkat piala. Ketika gema azan Subuh mengalun membelah cakrawala fajar, menembus euforia dan ketegangan menit-menit akhir dari layar kaca, sejenak hiruk-pikuk duniawi itu terhenti. Sorak-sorai dan debar jantung arena sepak bola mereda, berganti dengan kepatuhan jiwa yang hakiki.

Dalam nuansa spiritual yang pekat, kebersamaan tersebut bertransisi menjadi momentum sahur untuk menyongsong puasa sunat Senin. Langkah-langkah kaki kemudian beranjak beriringan menuju mushalla Rusun Baruga Adhyaksa. Di sana, dalam hening yang membuai jiwa, para punggawa hukum dan anak-anak rantau itu bersujud dalam balutan shalat Subuh berjamaah. Sebuah manifestasi tawadhu yang menggetarkan; menyadari bahwa di atas segala ketegangan dunia dan sorak kemenangan manusia, hanya ada satu Sang Khaliq, Penguasa Alam Semesta tempat segala muara berserah.
Malam di Rusun Adhyaksa tidak sekadar menyajikan tontonan bola yang menguras emosi. Ia menyuguhkan sebuah mahakarya tentang bagaimana seorang pemimpin merajut empati, merangkul akar rumput, dan menyatukan hiruk-pikuk dunia serta ketenangan akhirat dalam satu embusan napas kesederhanaan.