Dunia adat dan kebudayaan Minangkabau kembali kehilangan salah satu tonggak utamanya. Yusbir “Yus” Datuak Parpatiah, sosok yang selama ini dikenal sebagai maestro petitih adat dan “perpustakaan hidup” Minangkabau, berpulang ke rahmatullah pada Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 16.30 WIB di kediamannya di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Almarhum yang lahir pada 7 April 1939 tersebut bukan sekadar budayawan, melainkan penjaga denyut falsafah Minangkabau yang paling hakiki: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Sepanjang hidupnya, ia mendedikasikan diri dalam merawat, mengajarkan, serta menyebarluaskan nilai-nilai adat melalui karya-karya rekaman kaset pada era 1980–1990-an, yang kemudian berkembang dalam format video hingga menjangkau generasi lintas zaman.
Perjalanan hidupnya dimulai dari Nagari Sungai Batang, tempat beliau menempuh pendidikan dasar hingga menengah, sebelum merantau dan memperluas cakrawala pengalaman hingga ke Jakarta pada tahun 1976. Dalam perjalanan adatnya, beliau dipercaya sebagai panungkek dengan gelar Datuak Rajo Mangkuto sejak 1965, dan kemudian diangkat menjadi pangulu suku Chaniago dengan gelar Datuak Parpatiah pada 1970, sebuah amanah adat yang ia jalankan dengan penuh integritas dan keteladanan.
Kepergian beliau meninggalkan kekosongan yang tidak mudah tergantikan. Bagi masyarakat Minangkabau, baik di ranah maupun di rantau, Yus Dt. Parpatiah adalah penjaga memori kolektif, penutur nilai, penafsir adat, sekaligus jembatan antara tradisi dan modernitas.
Di tengah suasana duka tersebut, ucapan belasungkawa dan penghormatan mendalam datang dari berbagai tokoh, termasuk H. Ferry Taslim., S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, seorang Niniak Mamak Minangkabau, Pemangku Adat Suku Melayu Nagari Kapau, serta Koordinator I pada JAMDATUN Kejaksaan Agung Republik Indonesia.
Disela-sela kehadiran beliau dalam sebuah panggung kebudayaan bertajuk Literature On Stage “Tiga Datuk: Adat, Syarak, dan Tauhid” yang digelar di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta, pada Sabtu malam (28/3/2026), Ferry Tass., Dt. Toembidjo menyampaikan refleksi mendalam atas wafatnya tokoh besar tersebut.
Ferry Tass., Dt. Toembidjo menilai, kepergian Yus Dt. Parpatiah bukan hanya kehilangan personal, melainkan kehilangan epistemik dalam tubuh peradaban adat Minangkabau.
“Kita hari ini tidak sekadar kehilangan seorang ninik mamak, tetapi kehilangan satu mata rantai pengetahuan yang hidup. Angku Yus Dt. Parpatiah adalah representasi utuh dari marwah adat Minangkabau, yang tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupkan dalam laku, diwariskan dalam tutur, dan dijaga dalam kesadaran kolektif umat.”
Lebih lanjut, Ferry Tass., Dt. Toembidjo menegaskan bahwa sosok almarhum merupakan figur yang berhasil menjembatani nilai adat dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan ruhnya.
“Beliau adalah penjaga keseimbangan antara adat, syarak, dan realitas modern. Dalam diri beliau, kita menyaksikan bagaimana petitih tidak hanya menjadi kata-kata, tetapi menjadi arah, menjadi pijakan, dan menjadi cahaya dalam menuntun generasi Minangkabau ke depan.”
Dalam konteks yang lebih luas, momentum kepergian ini juga beriringan dengan panggung kebudayaan yang mengangkat jejak dakwah tiga ulama besar di Sulawesi Selatan, Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Ri Patimang, sebuah simbol bahwa estafet nilai, baik adat maupun syarak, adalah sebuah kesinambungan sejarah yang harus terus dijaga.
Kepergian Yus Dt. Parpatiah menjadi pengingat mendalam bahwa warisan adat bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan amanah hidup yang harus terus dirawat, dipelajari, dan diwariskan.
Kini, sosok yang selama ini menjadi rujukan, tempat bertanya, dan sumber hikmah itu telah kembali ke hadirat Ilahi. Namun jejak pemikirannya, tutur petitihnya, serta dedikasinya terhadap adat Minangkabau akan terus hidup dalam ingatan kolektif anak nagari, menjadi suluh dalam perjalanan zaman yang terus berubah.