Jakarta, 2 Maret 2026 — Suasana Aula Lantai 22 Gedung Kejaksaan Agung RI yang semula dipenuhi pembahasan strategis Rapat Koordinasi antara Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (JAMDATUN) dengan Direksi PT Indonesia Financial Group, mendadak berubah menjadi hangat dan penuh gelak tawa menjelang waktu berbuka puasa.

Pada Senin, 2 Maret 2026, pukul 16.30 WIB hingga menjelang Maghrib, para pejabat eselon II dan III mendapatkan siraman rohani yang tidak biasa dari Koordinator I pada JAMDATUN Kejaksaan Agung RI, H. Ferry Taslim, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo.

Mengangkat tema “Hakikat Mensyukuri Nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, beliau menyampaikan tausiyah dengan gaya khasnya — komunikatif, bersemangat, sesekali diselingi humor cerdas yang membuat audiens tersenyum tanpa kehilangan kedalaman makna.

Dengan energi yang kuat dan intonasi yang dinamis, beliau membuka tausiyahnya dengan candaan ringan tentang “lapar menjelang maghrib” yang langsung mencairkan suasana.

“Kadang kita merasa yang paling berat itu menahan lapar. Padahal yang lebih berat adalah menahan diri dari menyalahgunakan amanah. Lapar itu hanya beberapa jam, tapi amanah itu sampai kita dipanggil Allah.”

Ruang aula yang sebelumnya formal berubah menjadi lebih cair. Namun di balik gaya santainya, pesan yang disampaikan sangat tajam dan reflektif.

Beliau menegaskan bahwa rasa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan karakter yang tercermin dalam integritas kerja dan tanggung jawab jabatan.

“Syukur itu bukan hanya ‘Alhamdulillah’ di lisan, tapi bagaimana keputusan yang kita tanda tangani hari ini bisa kita pertanggungjawabkan nanti — bukan hanya di depan atasan, tapi di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Sebagai seorang Niniak Mamak Minangkabau dengan gelar adat Dt. Toembidjo, beliau turut menyisipkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, disampaikan dengan gaya ringan namun penuh wibawa. Filosofi adat dan nilai Islam dirajut menjadi satu pesan moral tentang kepemimpinan yang berakar pada etika dan tanggung jawab spiritual.

Kehadirannya tidak hanya merepresentasikan kapasitas struktural sebagai pejabat di lingkungan Kejaksaan Agung, tetapi juga intelektualitas akademik sebagai Mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Hukum di Universitas Hasanuddin — perpaduan antara pengalaman birokrasi, kedalaman ilmu, dan kekayaan nilai budaya.

Tausiyah tersebut menjadi penutup yang menyegarkan sebelum azan Maghrib berkumandang. Tidak hanya menghadirkan tawa, tetapi juga kesadaran bahwa jabatan adalah nikmat yang harus disyukuri dengan kerja yang jujur, profesional, dan bernilai ibadah.

Ramadhan sore itu di Aula Lantai 22 bukan sekadar forum koordinasi, melainkan momentum penguatan ruh pengabdian — disampaikan dengan gaya khas, kocak, bersemangat, namun tetap sarat makna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *