MANADO, 6 November 2026 – Semangat menjelajahi Nusantara dengan bersepeda mempertemukan dua putra Minangkabau di tanah rantau. Mak Del Denai, pria berusia 65 tahun asal Kampung Pasar Usang, Padang Panjang, Sumatera Barat, bersilaturahmi dengan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo, di ruang kerja beliau, Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Jumat (6/11/2026).

Pertemuan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo yang juga merupakan perantau Minangkabau sekaligus Niniak Mamak/Penghulu Adat Minangkabau menyambut Mak Del Denai dalam suasana kekeluargaan. Silaturahmi tersebut sekaligus menjadi gambaran kuatnya ikatan persaudaraan anak nagari yang tetap terpelihara meskipun berada jauh dari kampung halaman.
Mak Del Denai saat ini tengah menjalani perjalanan keliling Indonesia menggunakan sepeda. Memulai ekspedisi dari Jakarta pada 18 September 2026, ia melanjutkan perjalanan menuju Sulawesi Selatan pada 21 September, kemudian menyusuri kawasan Luwu dan pesisir Sulawesi Tengah hingga akhirnya tiba di Sulawesi Utara.
Setibanya di Bumi Nyiur Melambai, Mak Del Denai menyempatkan diri berziarah ke makam Tuanku Imam Bonjol sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh perjuangan nasional yang memiliki sejarah besar dalam perjalanan masyarakat Minangkabau.
Perjalanan tersebut dilandasi keinginan untuk mensyukuri nikmat Allah SWT, menikmati keindahan alam dan kekayaan budaya Nusantara, sekaligus menjaga kebugaran melalui olahraga bersepeda. Ia juga ingin mengajak masyarakat memasyarakatkan sepeda sebagai moda transportasi yang sederhana, sehat, ramah lingkungan, dan ekonomis.
Sebagai bentuk kehangatan dan persaudaraan sesama perantau Minangkabau, Mak Del Denai diinapkan selama satu malam di Rumah Jabatan Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara.
Pada Sabtu (7/11/2026), ia dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Gorontalo untuk meneruskan ekspedisi mengelilingi Pulau Sulawesi dengan lintasan menyerupai huruf K.
Perjalanan Mak Del Denai menjadi gambaran inspiratif bahwa usia bukanlah batas untuk terus bergerak, menjelajah, dan menikmati kehidupan. Lebih dari sekadar perjalanan bersepeda, ekspedisi ini juga membawa pesan tentang rasa syukur, kecintaan terhadap Nusantara, serta persaudaraan yang tidak pernah terputus oleh jarak dan waktu.
