Posted in

Takziah Ukhuwah di Tanah Minahasa: Dt. Toembidjo Hadir Bawa Pesan Kematian dan Kebenaran Ilahiah di Kediaman Sekjend IKM Sulut

MANADO (09/09) — Roda takdir senantiasa berputar dalam rahasia Sang Maha Pencipta, mengantarkan sebuah perpisahan yang niscaya bagi setiap jiwa. Pada hari Rabu, 9 September 2026, langit di kawasan PAL 2, Kota Manado, menjadi saksi bisu kedukaan yang menyelimuti keluarga besar Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) Manado. Ayahanda Alm. Kisman Manangka, mertua lelaki dari Sekretaris Jenderal DPW IKM Sulawesi Utara, Bapak Deddy Afdal, telah berpulang ke rahmatullah, merengkuh keabadian di sisi Sang Khalik.

Menyusuri jejak duka tersebut, hadir sosok tokoh sentral Minangkabau, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo. Menariknya, langkah beliau menapaki rumah duka bukanlah dalam kapasitas birokrasi pemerintahan. Meski saat ini beliau mengemban amanah abdi negara sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara yang bertugas di Manado, beliau menanggalkan sejenak jubah formalitas tersebut.

Beliau hadir murni sebagai penjemput ukhuwah dalam kehormatan agungnya selaku Niniak Mamak / Penghulu Adat Minangkabau sekaligus Dewan Pakar DPP IKM. Kehadiran ini menjadi manifestasi nyata dari kepedulian komunal yang mengakar kuat pada syariat Islam dan falsafah adat yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan di tanah rantau.

Di sela-sela untaian doa dan tahlil yang mengalun syahdu, Dt. Toembidjo menyampaikan sebuah tafakur mendalam tentang hakikat kefanaan dunia dan kepastian akhirat. Dengan nada yang sarat akan hikmah sufistik, beliau mengurai sebuah renungan yang menggetarkan relung kalbu para pelayat yang hadir:

“Ada sebuah dialog abadi antara kefanaan dan keabadian. Hidup bertanya kepada Kematian; ‘Mengapa orang-orang mencintaiku, akan tetapi membencimu..?’ Kematian menjawab; ‘Karena kamu adalah Dusta yang Indah., dan sementara aku adalah Kebenaran yang Manyakitkan..'”
Kutipan tersebut menjadi penawar lara sekaligus pengingat tajam bahwa gemerlap duniawi hanyalah persinggahan semu, sementara kematian adalah gerbang kepastian menuju perjumpaan hakiki dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lebih lanjut, sebagai seorang Penghulu Adat yang memegang teguh amanah regenerasi umat, Dt. Toembidjo turut menitipkan pituah luhur bagi keluarga besar yang ditinggalkan. Beliau menggemakan petatah-petitih penyambung warisan spiritual:

Adaik pusako patah, tumbuah hilang baganti, sako pakai mamakai, jajak nan indak namuah hilang sampai kini ado juo, usang diperbarui, lapuak dipajang juo.”

Untaian pituah ini menyiratkan pesan eskatologis sekaligus sosiologis yang mendalam. Raga boleh saja luruh dan kembali menjadi tanah, namun warisan nilai, kebaikan, dan ajaran leluhur akan terus hidup secara estafet dalam jiwa generasi penerus tak lekang oleh panasnya ujian kehidupan, tak lapuk oleh derasnya air mata perpisahan.

Pertemuan takziah di penghujung hari itu ditutup dengan munajat panjang yang di-aamiin-kan oleh seluruh hadirin. Semoga Sang Khalik melapangkan alam barzakh Alm. Kisman Manangka, menjadikannya raudhah min riyadhil jannah (taman dari taman-taman surga), serta mengaruniakan telaga kesabaran dan ketabahan yang luas bagi Bapak Deddy Afdal beserta seluruh keluarga besar yang ditinggalkan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *