MANADO (09/09) — Pagi di ufuk timur Kota Manado pada Rabu, 9 September 2026, terasa lebih hening dan pekat dari biasanya. Angin yang berembus di pelataran Bandara Internasional Sam Ratulangi seakan turut menanggung beratnya sebuah perpisahan. Pagi itu, burung besi maskapai Batik Air yang bersiap membelah angkasa di penerbangan awal menuju Jakarta, akan membawa separuh jiwa dari institusi Adhyaksa Bumi Nyiur Melambai: Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H. Sang ksatria hukum bersiap menapaki palagan barunya di Kejaksaan Agung Republik Indonesia sebagai Jaksa Fungsional, merajut sisa pengabdian sembari menanti masa purnabaktinya kelak.

Kepindahan sosok yang begitu dicintai ini memicu sebuah pemandangan emosional yang menggetarkan dada di terminal keberangkatan. Lorong-lorong bandara seketika tumpah ruah. Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, hadir secara langsung memimpin barisan kehormatan terakhir tersebut.
Langkah sang Wakajati diikuti oleh formasi lengkap para Pejabat Utama (PJU) Kejati Sulut, serta seluruh Kepala Kejaksaan Negeri dari seantero jazirah Sulawesi Utara.
Pagi itu, mereka menanggalkan sejenak kekakuan seragam dan atribut birokrasi, melebur menjadi deretan murid yang dengan dada sesak ingin menghantar ‘Sang Guru’ hingga ke ambang batas pintu keberangkatan.
Suasana haru biru tingkat tinggi tak lagi mampu dikompromikan tatkala waktu take off perlahan merapat. Pelataran bandara menjelma menjadi saksi bisu betapa rapuhnya pertahanan emosi manusia. Pelukan perpisahan yang erat, isak tangis tertahan yang menyayat hati, hingga linangan air mata membasahi wajah para punggawa keadilan yang selama ini dikenal berhati baja dan tak tertembus di ruang sidang.

Setiap jabat tangan dan rengkuhan di lorong boarding gate menjadi bahasa kalbu; sebuah untaian doa, rasa segan, dan terima kasih yang tak lagi sanggup diwadahi oleh kata-kata. Dr. Ferrytass, Dt. Toembidjo, beserta seluruh jajaran tampak tak kuasa menyembunyikan mata yang memerah, menjadi bukti sahih betapa Jacob Hendrik Pattipeilohy telah merajut ikatan batin yang begitu absolut di luar batas-batas pekerjaan struktural semata.
“Selamat jalan, Sang Guru,” bisik batin barisan yang mengantar, manakala sosok Jacob Hendrik melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum melangkah hilang ke balik garbarata.
Ketika deru mesin Batik Air pada akhirnya mengangkasa dan roda pesawat terangkat meninggalkan landasan pacu Sam Ratulangi, sebuah babak sejarah kepemimpinan penegakan hukum di Sulawesi Utara resmi dikhatamkan. Sang Guru kini terbang menuju Ibu Kota untuk merampungkan epilog pengabdiannya di Markas Besar Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Namun, di bawah langit Manado yang perlahan benderang, ia meninggalkan legasi yang takkan pernah pudar: sebuah keteladanan paripurna yang akan terus berdenyut di setiap helaan napas insan Adhyaksa.
