Posted in

Epilog Pamungkas di Kejati Sulut: Gegap Gempita Selebrasi ‘Sang Guru’ yang Bermuara pada Elegi Haru

MANADO (07/09) — Matahari perlahan meninggi di langit Manado pada Senin, 7 September 2026. Tepat ketika jarum jam menunjuk waktu 10.30 WITA, usai pelaksanaan apel pagi yang sarat akan wibawa, ritme di Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara kembali bertransformasi. Aula utama gedung penegak hukum tersebut menjadi palagan kulminasi perayaan hari jadi sekaligus purnabakti sang nakhoda, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H.

Mengusung tajuk batin yang begitu menggugah sanubari, “Melangkah dengan Pengabdian, Meninggalkan Jejak Keteladanan”, acara puncak ini menjadi episentrum berkumpulnya para punggawa keadilan. Seluruh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) dari ujung ke ujung Jazirah Utara Sulawesi hadir merapatkan barisan. Kehadiran para Kajari ini bukan sekadar pemenuhan presensi seremonial, melainkan ejawantah dari loyalitas dan penghormatan mutlak kepada figur ‘Sang Guru’ yang selama ini menjadi kompas moral institusi.

Pada mulanya, ruang perayaan bergemuruh oleh gegap gempita kegembiraan. Suasana hingar-bingar dan rona sukacita mendominasi setiap sudut ruangan. Di tengah kehangatan panggung kekeluargaan tersebut, Sang Guru, Jacob Hendrik Pattipeilohy (JHP), tampil mencairkan suasana dengan menyumbangkan suara emasnya. Beliau melantunkan tembang kenangan “Ke Jakarta Aku Kan Kembali” disusul lagu “Jangan Pisahkan Kami”. Untaian lirik dari sang guru seolah menjadi pesan batin tersirat yang mulai menyentuh kalbu para hadirin.

Tak membiarkan momen itu berlalu begitu saja, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, turut mengambil alih harmoni. Di atas panggung, sang Wakajati menyuarakan tembang “Kehilangan” dari Firman, lalu menyempurnakannya lewat kidung bernuansa religius penuh penghayatan, “Dengan Nafasmu” karya Ungu. Syahdunya sahut-sahutan nada dari dwitunggal kepemimpinan ini sukses membius seisi ruangan, meleburkan batasan antara pimpinan dan bawahan dalam satu resonansi kebersamaan.

Namun, layaknya sebuah lakon epos yang sempurna, bandul emosi perlahan berayun di penghujung acara. Gegap gempita yang semula membahana mendadak luruh, berganti dengan keheningan syahdu yang mengiris kalbu. Lirik-lirik perpisahan yang sempat didendangkan kini menemukan makna aslinya. Ketika layar pengabdian sang pimpinan bersiap digulung seutuhnya, suasana haru biru tak lagi mampu dibendung. Linangan air mata keikhlasan tampak membasahi sudut mata para jaksa, pegawai, hingga para Kajari yang selama ini dikenal tangguh tanpa kompromi di ruang sidang.

Menangkap momen perpisahan yang begitu emosional tersebut, Dr. Ferrytass, Dt. Toembidjo menuturkan sebuah refleksi yang teramat mendalam.

“Air mata yang tumpah di aula ini bukanlah ratapan sebuah kelemahan, melainkan kesaksian batin dari sebuah cinta dan rasa segan yang teramat besar. Sesuai tajuk kita hari ini, Sang Guru memang melangkah pergi untuk menuntaskan pengabdiannya, namun jejak keteladanan yang beliau torehkan telah menjadi kompas yang takkan pernah pudar,” tegas tokoh bergelar Dt. Toembidjo tersebut.

Lebih lanjut, beliau menambahkan dengan penuh takzim;

“Beliau membuktikan bahwa mahkamah hukum bisa dijaga dengan ketegasan yang presisi, namun pada akhirnya, pendekatan hatilah yang membuat seorang pemimpin bertahta abadi di sanubari pasukannya. Raga beliau mungkin tak lagi berada di ruangan ini esok hari, namun keteduhan karsanya akan terus hidup bersama kita.”


Elegi di ujung acara itu membuktikan satu realitas tak terbantahkan. Jacob Hendrik Pattipeilohy tidak sekadar memimpin dengan deretan beleid tertulis. Ia mungkin telah menanggalkan jubah jabatannya, namun jejak keteladanan yang ia ukir akan terpatri abadi, menjadi lentera yang takkan pernah padam di Bumi Nyiur Melambai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *