MANADO (24/08) — Fajar harapan baru merekah anggun di cakrawala penegakan hukum Bumi Nyiur Melambai. Sebuah mahakarya pertiwi kini bertahta dengan megah di pelataran sisi gedung utama Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara. Usai menempuh laku pembangunan selama 220 hari kalender, terhitung sejak tapak fondasi pertama diayunkan pada 11 Maret 2026, dengan serapan asa bernilai lebih dari Rp 7,4 miliar, Graha Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan Rumah Ibadah Imanuel resmi menapaki hari perdananya sebagai suluh pengabdian masyarakat pada Senin, 24 Agustus 2026.

Menggemakan titah sang Manggala, Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H., menguntai wacana wicaksana dalam pidato inagurasinya. Ia menegaskan bahwa tegaknya pilar-pilar ini bukanlah sekadar onggokan material nirnyawa, melainkan pralambang kebangkitan integritas birokrasi dan komitmen paripurna.
Berpedoman pada Memorandum Nomor: 13/P.1/CS.2/06/2026, PTSP ini ditahbiskan sebagai episentrum pelayanan luhur yang transparan dan akuntabel, meretas jalan terang menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Di saat yang beriringan, Bait Imanuel didaulat sebagai oase niskala; muara ketenangan batin, sarana penguatan iman, serta persemaian nilai integritas bagi insan Adhyaksa dalam merengkuh dharma sucinya demi keadilan.

Puncak seremoni ditandai dengan pengeratan pita suci, sebuah ritus yang memutus simpul kelampauan menuju era keemasan pelayanan publik. Laku bersejarah ini dipimpin langsung oleh Kajati Sulut Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H diiringi langkah tegap sang Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi, Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, serta disaksikan oleh pendar senyum keanggunan Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Wilayah Sulut, Ny. Yuris Hendrik.
Usai peresmian tersebut, ruang pualam PTSP seketika diselimuti simfoni maitri (cinta kasih) dan sahitya (persaudaraan) tatkala prosesi pemotongan tumpeng digelar. Di sinilah terukir sebuah panggung welas asih yang sarat makna; sang Kajati, dengan segenap kearifan laksana laku seorang bapak yang mengayomi, mendaulat potongan tumpeng ke haribaan Wakajati.

Bersama uluran tangan yang menyatukan karsa itu, mengalir pula untaian doa nan murni agar kelak sang Wakajati lekas merengkuh drajat promosi, serta senantiasa dilimpahi rezeki nan murakabi dari Sang Hyang Pencipta. Bait doa tulus nan menggetarkan sanubari tersebut sontak dijawab dengan gema “Aamiin” yang membahana dari segenap hadirin, menyatukan vibrasi asa di bawah naungan atap yang baru.

Di penghujung jalinan ritual nan adiluhung itu, kedua ksatria hukum ini pun melangkah pada dua kembara yang berbeda, namun tetap bermuara pada satu telaga pengabdian. Kajati Sulut, bersisian dengan perwakilan PDGI Sulut dan para gembala persekutuan ibadah, melabuhkan langkah menuju Bait Imanuel untuk melangitkan sembah bakti dan kidung pujian.
Sementara itu, di bilik yang lain, Wakajati Dr. H. Ferrytass memilih kembali ke ranah karsa, menepi dalam keheningan ruang kerjanya untuk kembali menekuni gulungan aksara dan setumpuk kewajiban, menjaga nyala keadilan agar tetap benderang, tak lekang diterpa zaman di ufuk utara pertiwi.