MAKASSAR(16/07) – Suasana di ruang kerja Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan pada Kamis (16/7/2026) ba’da dzuhur memancarkan ekuilibrium yang paripurna antara wibawa penegakan hukum dan kehangatan tradisi. Momentum bernuansa kekerabatan tingkat tinggi ini menandai kunjungan istimewa “Duo Datuak”, representasi Niniak Mamak atau Penghulu Adat Minangkabau di tanah rantau, kepada Kajati Sulawesi Selatan, Dr. Sila Haholongan Pulungan, S.H., M.Hum.
Eksponen “Duo Datuak” tersebut merupakan manifestasi integratif antara figur penegak hukum berdedikasi dan pemangku adat yang kharismatik. Keduanya memegang posisi sentral dan dihormati sebagai Dewan Pembina Ikatan Keluarga Minangkabau Sapayuang (IKMS) Sulawesi Selatan, sebuah wadah paguyuban primordial prestisius yang menjadi pilar pemersatu diaspora Keluarga Besar Minangkabau di tanah rantau.
Bagi H. Ferry Tass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, kunjungan ke Makassar ini memiliki nilai romantisme historis dan ikatan emosional yang mendalam. Pasalnya, sebelum mengemban amanah strategis sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara saat ini, beliau pernah menorehkan rekam jejak pengabdian yang gemilang di bumi Anging Mammiri sebagai Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.
Di sela-sela agenda lawatannya ke Makassar tersebut, Ferrytass., Dt. Toembidjo menginisiasi silaturahmi komprehensif ini bersama sahabat karib sekaligus kolega kulturalnya, Isnaini Al Ihsan, S.H., yang menyandang gelar Dt. Mangkuto Alam. Turut mengeskalasi bobot dan kehangatan pertemuan tersebut, hadir pula Wakajati Sulawesi Selatan, Prihatin, S.H., beserta Kepala Subdirektorat Pidum Kejaksaan Agung RI. Kehadiran para petinggi Korps Adhyaksa ini mengonfirmasi soliditas lintas institusional yang terjalin dengan sangat apik.
Diskusi yang mengalir secara organik di ruang kerja tersebut berpusat pada nilai-nilai adaptabilitas, kebijaksanaan, dan humanisme dalam penugasan seorang jaksa. Dr. Sila Haholongan Pulungan, figur pemimpin yang rekam jejaknya telah melintasi 14 provinsi di seantero Nusantara, membagikan retrospeksi karier dan filosofi kepemimpinannya. Beliau menekankan bahwa resiliensi di berbagai daerah bersumber dari kemampuan untuk berbaur dengan entitas dan kultur lokal.
Dalam perbincangan yang sarat akan makna kultural tersebut, Dr. Sila Haholongan Pulungan menyampaikan pandangannya yang mengafirmasi kedalaman falsafah Nusantara:
“Selama mengabdi dan berkeliling di 14 provinsi di seluruh penjuru Nusantara, saya memegang teguh satu prinsip fundamental: di mana pun kita ditugaskan, semua pihak senantiasa berkenan menerima kehadiran kita asalkan kita mampu beradaptasi dan melebur. Keberhasilan penegakan hukum tidak hanya diukur dari ketegasan, melainkan dari kelembutan hati untuk memahami masyarakatnya. Bagi saya, memanifestasikan filosofi ‘Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung’ adalah kunci paripurna dalam merawat harmoni penugasan.”
Merespons pandangan tersebut, Wakajati Sulawesi Utara, Ferrytass., Dt. Toembidjo, turut memberikan refleksi mendalam yang menyatukan perspektif hukum, memori pengabdian, dan nilai-nilai luhur kepemimpinan Niniak Mamak:
“Makassar selalu memiliki ruang istimewa dalam memori pengabdian saya. Silaturahmi ini bukan sekadar napak tilas atau nostalgia masa-masa bertugas sebagai Asdatun, melainkan sebuah penegasan bahwa sinergi antara integritas hukum dan kearifan lokal adalah fondasi yang tak terpisahkan. Pemikiran Bapak Kajati tentang filosofi adaptasi kultural sangat sejalan dan beresonansi dengan nilai-nilai kepemimpinan adat di Minangkabau. Hukum memang harus tegak lurus mengawal keadilan, namun harmoni sosial dan penerimaan masyarakat hanya bisa tercipta dari kelembutan pendekatan serta jalinan silaturahmi yang tak pernah putus.”
Konvergensi pemikiran yang bernuansa serius dan filosofis tersebut kemudian direspons dengan kelakar cerdas yang seketika mencairkan kekakuan protokoler. Merespons diksi “kelembutan hati” yang diutarakan, Dt. Mangkuto Alam menimpali dengan analogi kuliner yang memantik tawa hangat seisi ruangan.
“Intinya, dari kelembutan hati kita itu, harus selembut Bika Ambon,” seloroh Dt. Mangkuto Alam, yang mengurai gelak tawa dan mempererat ikatan kekerabatan di antara para tokoh yang hadir.
Pertemuan yang berlangsung dalam durasi yang intens ini tidak sekadar menjadi ajang bernostalgia. Lebih dari itu, silaturahmi ini menjadi penegas esensial bahwa nilai-nilai luhur adat, sebagaimana falsafah Minangkabau, senantiasa relevan menjadi kompas moral dan pedoman taktis bagi para aparat penegak hukum dalam menjalankan dharma bakti di seluruh pelosok negeri.