Jejak Pengabdian Ferry Tass., Dt. Toembidjo Menjelang Pelantikan sebagai Wakajati Sulawesi Utara
Ada perjalanan-perjalanan yang bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan makna. Begitulah jejak langkah Ferry Tass., Dt. Toembidjo dalam beberapa waktu terakhir, sebuah lintasan pengabdian yang bergerak dari Ranah Minangkabau menuju Tanah Minahasa, dengan setiap persinggahan menyimpan nilai yang mendalam.
Perjalanan itu bermula ketika beliau kembali menjejak tanah kelahirannya di Jorong Padang Cantiang, Nagari Kapau, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kepulangan tersebut menghadirkan suasana yang sarat emosi dan kehormatan. Sebagai seorang niniak mamak dan penghulu adat Minangkabau, beliau datang bukan sekadar untuk pulang, tetapi untuk melihat langsung kaum, anak kemenakan, serta denyut kehidupan keluarga besarnya yang menjadi akar marwah kepemimpinan beliau.

Di Ranah Minangkabau, setiap langkah terasa penuh makna. Rumah keluarga, halaman kampung, dan wajah-wajah dunsanak menjadi ruang batin tempat seorang pemimpin meneguhkan kembali pijakan nilai. Di sanalah adat, kehormatan kaum, dan tanggung jawab moral bertemu, memperkuat fondasi yang selama ini mengiringi perjalanan pengabdian beliau di tingkat nasional.
Dari kampung halaman, langkah beliau kemudian berlanjut ke Denpasar, Bali, untuk menjalankan tugas negara dengan memimpin tim liaison officer (LO) pada sebuah agenda strategis di kota internasional tersebut. Di tengah ritme tugas yang padat, penuh konsentrasi dan tanggung jawab, sebuah momentum besar hadir menghampiri.
Surat Keputusan dari Kejaksaan Agung Republik Indonesia resmi terbit justru pada saat beliau tengah memimpin tim LO di Denpasar. Sebuah momen yang terasa dramatik sekaligus simbolik, seolah perjalanan dari Ranah Minangkabau itu menemukan simpul takdirnya di Pulau Dewata, sebelum melangkah lebih jauh menuju amanah baru di ujung utara Sulawesi.
Kini, hitungan menuju Kamis, 23 April 2026 bukan lagi sekadar penanda waktu, melainkan penegas arah perjalanan pengabdian beliau. Dari nilai-nilai luhur yang diteguhkan di Ranah Minangkabau, ditempa dalam tugas strategis di Denpasar, langkah Ferry Tass., Dt. Toembidjo segera berlabuh di Tanah Minahasa untuk resmi dilantik sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara.
Perjalanan ini menjadi narasi yang utuh dan penuh daya gugah. Dari akar adat yang kokoh, menuju tugas negara yang strategis, lalu berujung pada amanah kepemimpinan baru, semuanya membentuk kisah tentang kesinambungan nilai antara budaya dan negara.

Dari Ranah Minangkabau ke Tanah Minahasa bukan sekadar judul, tetapi sebuah jejak sejarah pengabdian. Dari lereng Kapau yang sarat filosofi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, beliau membawa kebijaksanaan seorang penghulu, ketegasan seorang jaksa, dan keluasan pandang seorang negarawan menuju bumi Minahasa yang menanti kepemimpinannya.
Kini doa mengalir dari Kapau, dari ranah Minangkabau dan rantau, menuju Sulawesi Utara. Semua menanti hari pelantikan itu dengan bangga, berharap beliau membawa wibawa adat, integritas hukum, dan kebijaksanaan kepemimpinan dalam amanah besar yang akan segera diemban.